Mengenal Serdadu Londo Ireng dan Jejak Sejarahnya di Purworejo

Share

Sebutan Londo Ireng merujuk pada tentara bayaran asal Afrika Barat yang didatangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19. Rekam jejak mereka hingga kini masih berbekas di Kampung Afrikan, Purworejo, Jawa Tengah.

Penggalangan pasukan ini bermula pasca-Perang Diponegoro yang berakhir pada 1830, sebagaimana dikutip dari Detik Travel. Perekrutan serdadu luar negeri dilakukan untuk memperkuat pertahanan kolonial di Pulau Jawa.

Perang Jawa tercatat merenggut sekitar 8.000 nyawa prajurit Hindia Belanda dari unsur Eropa maupun pribumi. Aturan baru saat itu juga menyulitkan Belanda untuk mendatangkan tentara tambahan dari benua Eropa.

"Perang Jawa sudah menelan 8.000 serdadu Hindia Belanda baik serdadu kulit putih maupun serdadu pribumi yang direkrut pemerintah kolonial," kata Atas kepada detikcom.

Kondisi tersebut mendorong Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mengalihkan sasaran perekrutan ke wilayah Afrika Barat. Langkah ini diambil karena biaya perekrutan lebih murah, bebas kendala aturan, serta para prajurit dinilai tangguh dan tahan iklim tropis.

Proses rekrutmen berlangsung secara bertahap dengan masa kontrak 12 tahun dan gaji 100 gulden per bulan. Sebanyak 112 personel didatangkan pada 1831–1836, dilanjutkan 2.100 orang pada 1837–1841, dan 800 orang pada 1860–1872.

Para prajurit yang berasal dari kawasan Ghana, Burkina Faso, serta Pantai Gading ini disebar ke tangsi militer di Semarang, Salatiga, Solo, dan Purworejo. Markas Tangsi Kedungkebo di Purworejo menampung alokasi pasukan terbanyak.

"Dari jumlah itu kemudian disebar ke beberapa tangsi militer Belanda di antaranya di Semarang, Salatiga, dan Solo. Tetapi yang paling banyak ditempatkan di tangsi Kedungkebo Purworejo karena di daerah Bagelen dianggap daerah paling rawan," ujar Atas.

Penempatan pasukan dalam jumlah besar di Purworejo berkaitan erat dengan status wilayah Bagelen sebagai pusat perlawanan pengikut Pangeran Diponegoro. Pemerintah kolonial menetapkan Bagelen sebagai karesidenan khusus sejak 18 Desember 1830.

Pengawasan ketat diberlakukan dengan membangun 25 benteng di kawasan Bagelen hingga Urut Sewu, Kebumen. Selain bertugas di Jawa, serdadu Londo Ireng dikirim ke pelbagai medan tempur seperti Lampung, Bali, Sumatera Selatan, dan Aceh.

"Daerah selatan Purworejo dan Kebumen merupakan basis pasukannya Pangeran Diponegoro sehingga kolonial selalu mengawasi dengan ketat, bahkan dulu sepanjang jalan pesisir selatan dikenal dengan Jalan Pangeran Diponegoro," kata Atas.

Atas pengabdian mereka, pemerintah kolonial menganugerahkan tanah pada 1859 dan mengizinkan prajurit lajang menikahi perempuan lokal. Setiap keluarga menguasai lahan seluas 1.151 meter persegi untuk tempat tinggal dan pertanian.

Kawasan tempat tinggal para serdadu tersebut kini berkembang menjadi Kampung Afrikan di Kelurahan Pangen Jurutengah, Purworejo. Jejak sejarah kawasan ini masih terlihat dari penamaan Jalan Afrikan serta keberadaan bangunan kuno berpagar kawat berduri khas era kolonial.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author