Mengenal Low Carb Cruise Tren Liburan Kapal Pesiar Sambil Diet Rendah Karbohidrat

Share

Tren menjalani pola hidup sehat kini hadir melalui konsep low carb cruise. Konsep ini menawarkan perjalanan kapal pesiar yang dikhususkan bagi orang-orang dengan pola makan rendah karbohidrat.

Dikutip dari HaiBunda, peserta tidak sekadar berlibur melainkan diajak mengikuti seminar, berbagi pengalaman, hingga membangun komunitas yang mendukung gaya hidup sehat. Pengalaman ini bahkan membantu peserta menurunkan berat badan sekaligus mempertahankannya dalam jangka panjang.

Konsep low carb cruise diprakarsai oleh Debbie Hubbs, perempuan asal Arizona, Amerika Serikat. Ia mengaku berhasil mengubah hidupnya setelah menerapkan pola makan rendah karbohidrat setelah puluhan tahun mencoba berbagai metode diet tanpa hasil bertahan lama.

"Ini satu-satunya cara yang benar-benar berhasil bagi saya. Di usia 73 tahun, saya masih bisa menyelam scuba. Saya merasa tetap sehat dan kuat," ujar Hubbs dilansir dari New York Post.

Low carb cruise pertama kali digagas pada 2008 setelah Hubbs bertemu dengan seorang perempuan di ruang obrolan online tentang penurunan berat badan. Keduanya yang menyukai liburan kapal pesiar kemudian mengajak anggota komunitas lain untuk ikut berlayar bersama. Salah satu anggota komunitas yang merupakan blogger di jaringan ketogenik menawarkan diri untuk mengundang para pembicara sekaligus menjadi narasumber.

Pelayaran perdana tersebut awalnya hanya diikuti sekitar 30 peserta. Antusiasme peserta terus meningkat hingga mencapai lebih dari 360 orang pada pelayaran menuju Alaska. Hingga kini, low carb cruise telah diselenggarakan sebanyak 20 kali dengan bekerja sama bersama perusahaan kapal pesiar besar, termasuk Royal Caribbean yang menyediakan ruang konferensi untuk seminar.

Selama pelayaran, peserta mengikuti seminar yang membahas cara mengurangi konsumsi karbohidrat, bukan mempromosikan satu jenis diet rendah karbohidrat tertentu. Peserta juga menikmati makan bersama, mengikuti berbagai permainan, pesta kostum, hingga menari bersama.

"Kami bermain bersama, menari bersama, dan mengadakan pesta kostum. Rasanya seperti berlayar bersama keluarga dan sahabat," kata Hubbs.

Peserta yang mengikuti pelayaran berasal dari berbagai negara, seperti Islandia, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Meksiko, dan sejumlah negara di Eropa. Banyak pula peserta yang kembali mengikuti pelayaran pada tahun-tahun berikutnya.

Dukungan Komunitas dan Kesiapan Mental

Anggota komite Low Carb Cruise, Michelle Hall, mengaku memahami perjuangan orang yang berkali-kali gagal menjalani program diet. Ia sendiri menjalani diet pertama saat berusia sembilan tahun dan selalu bergelut dengan masalah berat badan.

Pada 2011, Hall menjalani operasi gastric lap band dan berhasil menurunkan berat badan hampir 45 kg, namun berat badannya kembali meningkat setelah alat tersebut dilepas. Situasi pandemi COVID-19 menjadi titik balik baginya untuk kembali mencoba diet keto pada Juni 2020 dan berhasil dipertahankan.

"Pandemi benar-benar membuat saya takut. Saya berpikir, kalau sampai tertular COVID-19, mungkin risikonya sangat besar bagi saya. Itu yang akhirnya memotivasi saya untuk benar-benar serius," katanya.

Ketika mengetahui adanya Low Carb Cruise, Hall langsung memesan tiket untuk dirinya dan sang suami. Tren diet ini akhirnya membantu ia dan pasangannya untuk menurunkan berat badan. Menurut Hall, hal paling berkesan dari pelayaran ini adalah rasa kebersamaan yang tercipta di antara para peserta. Ketika ia bertanya kepada anggota grup Facebook komunitas mengenai hal paling berharga selama pelayaran, hampir semua menjawab soal komunitasnya.

Salah seorang peserta mengatakan pengalaman ini telah mengubah hidupnya setelah berani membagikan kisah perjuangan dan menyelesaikan lomba lari 5 km pertamanya. Peserta lain bahkan mengaku terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor di bidang ilmu kesehatan. Hall menilai tantangan terbesar dalam mengubah pola makan bukan hanya soal memilih makanan, tetapi juga kesiapan mental seseorang.

"Usus kita sering disebut sebagai otak kedua. Kalau kesehatan usus tidak baik, banyak hal lain dalam tubuh juga tidak akan bekerja secara optimal," ucapnya.

Meski mengusung tema rendah karbohidrat, penyelenggara menegaskan di situs resminya bahwa mereka tidak mempromosikan atau bertujuan merekomendasikan satu gaya hidup rendah karbohidrat tertentu. Hall menambahkan, peserta juga tidak perlu merasa dihakimi kalau sesekali ingin menikmati makanan di luar pola makan mereka.

"Tidak ada 'polisi low carb' di sini. Ini adalah waktu liburan Anda," ujar Hall.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author