Mengenal Hero Child Syndrome dan Dampaknya bagi Tumbuh Kembang Anak
Setiap anak sejatinya memiliki peran masing-masing yang dapat berjalan fleksibel dalam sebuah keluarga yang sehat. Fleksibilitas tersebut biasanya terbentuk berdasarkan perbedaan kepribadian, minat, maupun perilaku setiap anggota keluarga. Kondisi berbeda terjadi pada keluarga yang tidak sehat atau disfungsional.
Peran setiap anggota keluarga di dalam sistem yang kacau tersebut bergeser untuk memulihkan keseimbangan unit keluarga, salah satunya melalui peran anak pahlawan. Seperti dilansir dari HaiBunda, fenomena psikologis ini dikenal dengan istilah hero child syndrome. Keadaan ini membuat anak tumbuh dengan beban psikologis yang mengharuskan mereka untuk selalu terlihat kuat dan menonjol dalam hal prestasi.
Dikutip dari Psychology Today, anak pahlawan merupakan anggota keluarga berprestasi tinggi yang memanfaatkan kesuksesan serta pencapaiannya demi menjaga keutuhan keluarga. Pola perilaku mereka digerakkan oleh penghargaan eksternal, seperti pujian orang tua atau lingkungan sekitar.
Kondisi ini memiliki jebakan tersendiri yang dapat terbawa hingga usia dewasa. Peran pahlawan berpotensi membentuk kepribadian yang maladaptif bagi anak di masa depan. "Anda mungkin berpikir, 'Lalu, apa yang salah dengan kesuksesan?
Itu tidak terdengar begitu buruk….' Memang benar, peran anak pahlawan mungkin kurang terkait dengan gejala depresi di kemudian hari dibandingkan beberapa peran keluarga disfungsional," ungkap Lauren Dennelly Ph.D., LCSW, penulis The Mental Health of Girls and Women.
Menurut Dennelly, peran tersebut tetap menyimpan perjuangan emosional yang berat. Sifat perfeksionisme yang berlebihan dapat memicu tekanan batin yang besar bagi anak. Berdasarkan data Prospect Therapy, anak pahlawan secara keliru mendapatkan wewenang untuk mengurus segala hal dan semua orang. Sindrom ini kerap muncul dalam keluarga yang menerapkan ekspektasi terlalu tinggi atau saat orang tua tidak hadir secara emosional.
Ketika tumbuh dewasa, individu dengan sindrom ini cenderung menjadi sosok pemburu prestasi yang berlebihan. Mereka kerap mengaitkan harga diri hanya dengan apa yang berhasil mereka capai. Sikap cemas berlebih sering mengintai karena mereka menolak segala bentuk ketidaksempurnaan.
Di lingkungan kerja, mereka mungkin disukai atasan karena performa yang baik, namun di balik itu tersimpan kepanikan serta kelelahan mental. Dalam aspek hubungan romantis, mereka kerap kesulitan untuk bersikap terbuka karena takut nilai dirinya runtuh saat gagal. Mereka cenderung mengutamakan kebutuhan pasangan dan mengabaikan emosi diri sendiri, yang memicu ketidakseimbangan hubungan.