Mengenal Gejala Gangguan Bipolar dan Cara Tepat Menanganinya

Share

Gangguan bipolar merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati secara ekstrem. Dilansir dari Bloomberg Technoz, penderita kondisi ini dapat mengalami fase emosi yang sangat tinggi atau manik, lalu berganti ke fase depresi. Perubahan suasana hati tersebut bukan sekadar naik-turun emosi biasa.

Pada beberapa kasus, gangguan bipolar dapat memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, pendidikan, hingga kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Meski termasuk gangguan mental yang cukup umum, bipolar sering kali terlambat terdiagnosis. Hal ini terjadi karena gejalanya dapat menyerupai kondisi psikologis lain atau bahkan tidak disadari oleh penderitanya sendiri.

Gangguan bipolar umumnya ditandai oleh dua fase utama, yaitu fase manik atau hipomanik dan fase depresi. Kedua fase ini memiliki karakteristik yang bertolak belakang.

Pada fase manik atau hipomanik, seseorang dapat mengalami energi yang meningkat secara berlebihan dan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Penderita juga biasanya berbicara lebih cepat dari biasanya serta sulit tidur tetapi tidak merasa lelah. Selain itu, muncul banyak ide atau pikiran secara bersamaan, mudah terdistraksi, dan mudah marah. Penderita pada fase ini juga cenderung mengambil keputusan impulsif atau berisiko.

Sementara itu, pada fase depresi, gejala yang muncul meliputi perasaan sedih, kosong, atau putus asa. Penderita akan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mudah lelah, dan kehilangan energi. Gejala lainnya adalah sulit berkonsentrasi, perubahan pola makan dan berat badan, serta gangguan tidur. Penderita juga sering merasa tidak berharga, merasakan rasa bersalah berlebihan, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Jenis Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar terbagi ke dalam beberapa jenis utama berdasarkan karakteristik episodenya. Bipolar Tipe I ditandai oleh setidaknya satu episode mania yang berlangsung cukup berat dan dalam beberapa kasus memerlukan perawatan rumah sakit. Bipolar Tipe II terjadi ketika penderita mengalami episode depresi mayor yang disertai hipomania.

Berbeda dengan tipe pertama, penderita bipolar tipe II tidak mengalami episode mania penuh. Selanjutnya terdapat Gangguan Siklotimia (Cyclothymia). Kondisi ini ditandai oleh periode hipomania dan depresi ringan yang berlangsung dalam jangka waktu lama, biasanya minimal dua tahun pada orang dewasa.

Kategori terakhir adalah Gangguan Bipolar Lainnya. Bagian ini mencakup gangguan bipolar yang dipicu oleh kondisi medis tertentu atau penggunaan zat seperti alkohol maupun narkotika.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti gangguan bipolar belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor diduga berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Beberapa faktor tersebut meliputi faktor genetik atau riwayat keluarga dengan gangguan bipolar serta perbedaan struktur dan fungsi otak. Lingkungan yang penuh tekanan atau stres berkepanjangan juga turut berpengaruh.

Faktor risiko lainnya adalah penggunaan alkohol atau zat tertentu, serta kondisi medis yang memengaruhi fungsi saraf dan otak. Meski demikian, tidak semua orang yang memiliki faktor risiko tersebut akan mengalami gangguan bipolar.

Cara Diagnosis Bipolar

Diagnosis gangguan bipolar dilakukan oleh tenaga profesional kesehatan mental melalui beberapa tahapan medis. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Proses selanjutnya melibatkan wawancara psikiatri mengenai pola pikir, suasana hati, dan perilaku. Penilaian psikologis juga dilakukan melalui kuesioner atau observasi langsung.

Dokter pun akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta pemantauan pola suasana hati dalam periode tertentu. Proses diagnosis terkadang membutuhkan waktu panjang karena gejalanya menyerupai depresi atau gangguan mental lain.

Metode Perawatan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi jangka panjang yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Tujuan utama terapi adalah menjaga stabilitas suasana hati dan mencegah kekambuhan gejala. Beberapa metode perawatan yang umum dilakukan meliputi pengobatan dengan resep penstabil suasana hati atau antipsikotik.

Psikoterapi berupa konseling dengan psikolog atau psikiater juga diberikan untuk membantu pasien mengelola gejala. Metode lainnya adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengidentifikasi pola pikir pemicu kekambuhan. Rawat inap dapat dilakukan jika terdapat risiko bunuh diri atau episode mania berat.

Terapi Elektrokonvulsif (ECT) menjadi pilihan apabila terapi lain tidak memberikan hasil optimal. Selain itu, perubahan gaya hidup seperti tidur cukup, olahraga rutin, mengelola stres, serta menghindari alkohol dan narkoba sangat membantu menjaga stabilitas mental.

Penanganan dini sangat penting karena gangguan bipolar tidak dapat dianggap sebagai perubahan suasana hati biasa. Tanpa penanganan tepat, kondisi ini dapat memburuk dan memengaruhi kualitas hidup, hubungan sosial, hingga produktivitas seseorang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author