Mengenal Foodscaping Tren Berkebun yang Satukan Tanaman Hias dan Pangan

Share

Menata ulang pekarangan rumah kini dapat dilakukan dengan menerapkan teknik foodscaping yang tengah menjadi tren berkebun. Konsep ini diprediksi mengarah pada pemanfaatan lahan yang lebih produktif sekaligus berkelanjutan.

Dilansir dari HaiBunda, foodscaping merupakan teknik menata lanskap dengan menggabungkan tanaman hias dan tanaman pangan dalam satu area yang harmonis. Konsep ini menawarkan manfaat ganda, mulai dari mempercantik taman hingga menyediakan hasil panen sayur, buah, dan rempah untuk kebutuhan rumah tangga.

Para pakar lanskap dan hortikultura menilai teknik ini akan menjadi salah satu tren taman terbesar untuk beberapa tahun ke depan. Foodscaping sering disebut sebagai versi modern dari kebun dapur tradisional ala Prancis atau potager.

Berbeda dengan kebun sayur konvensional yang areanya dipisah, foodscaping justru menyatukan tanaman pangan dengan elemen lanskap dekoratif. Tanaman yang digunakan dikenal sebagai edimentals, yaitu tanaman yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus dapat dikonsumsi.

Jenis tanaman edimentals sangat beragam, mulai dari tanaman tahunan, semak, hingga pohon buah. Keunggulan utama dari konsep ini terletak pada efisiensi pemanfaatan sumber daya yang tertata di halaman rumah.

Penggunaan tanaman pangan sebagai bagian dari border atau area tanam dekoratif diperkirakan semakin populer. Beberapa tanaman berbunga seperti calendula dan lavender Inggris dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kuliner sekaligus mempercantik visual taman.

Sementara itu, tanaman seperti kale, artichoke, rhubarb, dan chard dengan batang berwarna cerah mampu menciptakan tampilan visual menarik. Kehadiran vegetasi tersebut memberikan keindahan tanpa mengurangi fungsi produktif lahan.

Konsep ini membantu mengubah pandangan lama bahwa tanaman pangan harus selalu ditanam di kebun khusus yang terpisah. Kini, tanaman edibel dapat berfungsi layaknya elemen desain lanskap konvensional seperti pembatas taman, peneduh, hingga pagar hidup.

Adaptasi Perubahan Iklim dan Keberlanjutan Lingkungan

Perubahan iklim dan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketersediaan air membuat foodscaping semakin relevan untuk diaplikasikan. Pemilik rumah mulai mencari tanaman yang tetap produktif tetapi tidak membutuhkan banyak pasokan air.

Tanaman pangan tahan kekeringan seperti pir berduri (Opuntia ficus-indica) dapat menjadi pilihan ideal untuk taman kering karena menghasilkan buah yang dapat dimakan. Perkembangan foodscaping ke depan akan terus menyesuaikan diri dengan kondisi iklim di setiap wilayah.

Selain menghasilkan bahan pangan segar, konsep ini menawarkan manfaat ekonomi karena dapat mengurangi biaya belanja dan menekan jarak distribusi makanan atau food miles. Popularitasnya juga didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kehadiran berbagai tanaman pangan di taman rumah dapat membantu meningkatkan keanekaragaman hayati serta menyediakan habitat bagi serangga penyerbuk. Tren ini bahkan diprediksi akan meluas hingga ke kawasan permukiman dan area kampus.

Berbagai jenis bunga, tanaman herbal, pohon buah, dan semak produktif mampu menarik lebah, kupu-kupu, serta satwa liar lainnya. Keberadaan tanaman berbuah juga menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, dan area bersarang bagi burung maupun satwa kecil.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author