Mengenal Cape Verde Negara Kepulauan Afrika yang Berjaya Lawan Argentina

Share

Perjalanan Cape Verde di ajang Piala Dunia menyita perhatian banyak orang setelah memberikan perlawanan sengit saat melawan Argentina di babak 32 besar. Di balik penampilan impresif tersebut, negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat itu menyimpan beragam cerita menarik lainnya.

Dilansir dari Detikcom, Cape Verde atau Cabo Verde secara resmi bernama Republik Cabo Verde. Negara yang beribu kota di Praia ini merupakan bagian dari ekoregion Macaronesia bersama dengan Azores, Kepulauan Canary, Madeira, dan Kepulauan Savage.

Kepulauan Tanjung Verde terletak di tengah Samudra Atlantik, sekitar 450 kilometer atau sekitar 300 mil dari pantai barat Afrika. Wilayah ini terdiri dari 10 pulau dan 5 pulau kecil yang terbagi menjadi kelompok sisi angin (Barlavento) dan sisi terlindung angin (Sotavento).

Pulau-pulau utama di kelompok Barlavento meliputi Santo Antão, São Vicente, Santa Luzia, São Nicolau, Sal, dan Boa Vista. Sementara itu, pulau-pulau di kelompok Sotavento mencakup Maio, Santiago, Fogo, dan Brava. Semua pulau yang lebih besar berpenghuni, kecuali Santa Luzia.

Tiga pulau seperti Sal, Boa Vista, dan Maio umumnya memiliki kontur datar dan sangat kering. Pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.280 meter atau 4.200 kaki dapat ditemukan di Santiago, Fogo, Santo Antão, dan São Nicolau.

Curah hujan di negara ini tidak teratur sehingga kepulauan ini mengalami kekeringan berkala dan akibatnya kekurangan pangan. Curah hujan rata-rata per tahun di Praia adalah 24 sentimeter atau 9,5 inci. Selama musim dingin, badai yang bertiup dari Sahara terkadang membuat langit berawan, tetapi hari-hari cerah adalah hal yang biasa sepanjang tahun.

Kepulauan Tanjung Verde tidak berpenghuni hingga bangsa Portugis menemukan pulau-pulau tersebut pada tahun 1456. Orang Afrika kemudian dibawa ke pulau-pulau tersebut untuk bekerja di perkebunan Portugis. Akibatnya, penduduk Tanjung Verde memiliki campuran keturunan Afrika dan Eropa.

Pengaruh budaya Afrika paling terasa di pulau Santiago, tempat separuh penduduk tinggal. Curah hujan yang jarang dan sedikitnya sumber daya alam secara historis telah mendorong penduduk Tanjung Verde untuk beremigrasi.

Dari lebih dari 1 juta individu keturunan Tanjung Verde, diperkirakan kurang dari setengahnya benar-benar tinggal di pulau-pulau tersebut. Komunitas diaspora Tanjung Verde tersebar di Amerika Serikat, Portugal, Belanda, Italia, Prancis, dan Senegal.

Bahasa resmi yang digunakan adalah Portugis, tetapi sebagian besar penduduk Tanjung Verde juga berbicara dialek Kreol atau Krioulo. Dialek ini berbasis pada bahasa Portugis kuno tetapi dipengaruhi oleh bahasa-bahasa Afrika dan Eropa. Tanjung Verde juga memiliki tradisi sastra dan musik Kreol yang kaya.

Sejarah Cape Verde

Para pemukim Portugis tiba di Santiago pada tahun 1462 dan mendirikan Ribeira Grande yang sekarang dikenal sebagai Cidade Velha. Tempat ini menjadi kota pemukiman permanen Eropa pertama di daerah tropis. Pada abad ke-16, kepulauan ini makmur berkat perdagangan budak transatlantik.

Setelah serangan Prancis pada tahun 1712, kota ini mengalami penurunan kepentingan dibandingkan dengan Praia yang kemudian menjadi ibu kota pada tahun 1770.

Kemakmuran awal Tanjung Verde perlahan lenyap seiring menurunnya perdagangan budak. Namun, posisi kepulauan tersebut di jalur pelayaran Atlantik tengah menjadikan Tanjung Verde lokasi yang ideal untuk memasok kembali kapal-kapal. Karena pelabuhannya yang sangat baik, Mindelo di pulau São Vicente menjadi pusat perdagangan penting selama abad ke-19.

Portugal mengubah status Tanjung Verde dari koloni menjadi provinsi seberang laut pada tahun 1951 dalam upaya untuk meredam nasionalisme yang berkembang. Meskipun demikian, Amilcar Cabral bersama sekelompok warga Tanjung Verde dan Guinea-Bissau mendirikan Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea-Bissau dan Tanjung Verde (PAIGC) secara diam-diam pada tahun 1956 di Guinea-Bissau.

Organisasi ini menuntut perbaikan kondisi ekonomi, sosial, dan politik di Tanjung Verde serta Guinea Portugis. Gerakan ini kemudian menjadi dasar perjuangan kemerdekaan kedua negara tersebut.

Pada tahun 1972, PAIGC berhasil menguasai sebagian besar Guinea Portugis meskipun ada kehadiran pasukan Portugis. Organisasi ini tidak berupaya mengganggu kendali Portugis di Tanjung Verde. Namun, setelah revolusi April 1974 di Portugal, PAIGC menjadi gerakan politik yang aktif di Tanjung Verde.

PAIGC dan Portugal menandatangani perjanjian yang mengatur pemerintahan transisi pada Desember 1974. Pemerintahan ini terdiri dari warga Portugal dan warga Tanjung Verde. Selanjutnya, warga Tanjung Verde memilih Majelis Nasional pada 30 Juni 1975, yang menerima instrumen kemerdekaan dari Portugal pada 5 Juli 1975.

Hubungan antara kedua negara sempat tegang segera setelah kudeta November 1980 di Guinea-Bissau. Tanjung Verde akhirnya meninggalkan harapannya untuk bersatu dengan Guinea-Bissau dan membentuk Partai Afrika untuk Kemerdekaan Tanjung Verde (PAICV).

Masalah-masalah tersebut sejak itu telah diselesaikan, dan hubungan antara kedua negara membaik. PAICV dan pendahulunya mendirikan sistem satu partai dan memerintah Tanjung Verde sejak kemerdekaan hingga tahun 1990.

Pemerintahan Cape Verde

Konstitusi Tanjung Verde yang diadopsi pada tahun 1980 dan mengalami beberapa kali amandemen menjadi dasar pemerintahan. Perdana Menteri bertindak sebagai kepala pemerintahan yang mengusulkan menteri dan sekretaris negara lainnya.

Anggota Majelis Nasional dipilih melalui pemilihan umum untuk masa jabatan 5 tahun. Perdana Menteri dinominasikan oleh Majelis Nasional dan diangkat oleh Presiden. Presiden sendiri merupakan kepala negara yang dipilih melalui pemilihan umum untuk masa jabatan 5 tahun.

Sistem peradilan di negara ini terdiri dari Mahkamah Agung, pengadilan daerah, serta pengadilan terpisah yang menangani kasus perdata, konstitusional, dan pidana. Anggota Mahkamah Agung diangkat oleh Presiden, Majelis Nasional, dan Dewan Kehakiman. Proses banding nantinya diajukan ke Mahkamah Agung.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author