Mendidik Kemandirian Anak Sejak Dini Melalui Pola Asuh di Lima Negara

Share

Menanamkan sikap mandiri sejak usia dini bisa menjadi fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Melalui proses belajar, pengalaman, serta bimbingan yang konsisten, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan percaya diri.

Dilansir dari HaiBunda, kemandirian anak tidak muncul secara instan. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan perasaan mereka sebagai salah satu cara melatih kemandirian.

"Mengajarkan anak-anak untuk mandiri dimulai sejak usia dini, dan akan terlihat berbeda serta dibimbing secara berbeda berdasarkan usia anak," kata profesor perkembangan manusia dan studi keluarga di University of North Carolina Greensboro, Stephanie Irby Coard, PhD, dilansir laman Parents.

"Mengajari anak-anak untuk berpikir sendiri berarti orang tua harus secara bertahap melonggarkan kendali agar anak-anak dapat memperoleh kepercayaan diri dan pengalaman berharga dalam membuat keputusan sendiri," ujar Coard.

"Dukung kebutuhan anak untuk membangun rasa otonomi dengan memberikan nasihat hanya setelah kita mendengar apa yang mereka katakan dan apa arah yang mereka inginkan," sambungnya.

Di beberapa negara, praktik pengasuhan sehari-hari telah berhasil mendorong kebebasan dan ketangguhan anak sejak usia balita hingga sekolah.

Berdasarkan informasi dari laman Times of India, terdapat lima negara yang memiliki kebiasaan unik dalam mendidik anak agar mandiri sejak kecil.

1. Jepang

Masyarakat Jepang menerapkan kedisiplinan yang tinggi dalam pola asuh mereka. Sejak kecil, anak-anak sudah diberi tanggung jawab harian seperti membawa tas mereka sendiri.

Ketika menginjak usia enam tahun, anak-anak di Jepang bahkan sudah dibiasakan berjalan di lingkungan sekitar tanpa pengawasan orang dewasa. Mereka juga dilatih menggunakan transportasi umum untuk pergi ke sekolah sendirian.

2. Finlandia

Sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik, Finlandia menganggap kemandirian sebagai bagian krusial dari tumbuh kembang. Anak-anak berusia tujuh tahun diizinkan bersepeda atau berjalan kaki menuju sekolah sendirian.

Orang tua di Finlandia juga sangat mendukung anak-anak untuk bermain di luar ruangan. Mereka meyakini bahwa ruang bebas berpikir akan membantu anak belajar dengan lebih baik.

3. Denmark

Pola asuh di Denmark tergolong cukup unik dan mengutamakan faktor keselamatan publik. Para orang tua terbiasa meninggalkan kereta bayi berisi anak yang sedang tidur di tempat umum tanpa rasa khawatir.

Saat anak-anak tumbuh lebih besar, mereka diberikan kebebasan penuh oleh orang tua. Mereka didorong untuk mengeksplorasi lingkungan luar secara mandiri.

4. Jerman

Anak-anak di Jerman yang telah menginjak usia lima tahun didorong untuk bermain di luar rumah tanpa pengawasan langsung. Kemandirian ini dipercaya menjadi bagian penting bagi perkembangan masa kanak-kanak yang sehat.

Saat memantau anak bermain, orang tua biasanya akan menjaga jarak dengan duduk di bangku yang jauh. Anak-anak di negara ini juga dimotivasi untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sendiri.

5. Netherlands (Belanda)

Kemandirian menjadi nilai budaya inti yang ditanamkan sejak anak masih berusia balita di Belanda. Negara ini menerapkan gaya pengasuhan yang minim intervensi fisik langsung.

Balita di Belanda dibiarkan mengeksplorasi batasan fisik mereka saat bermain. Ketika seorang anak terjatuh di taman bermain, orang tua cenderung menunggu respon anak untuk bangun sendiri terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author