Memahami Karakter Orang yang Enggan Berbagi Makanan Menurut Ahli

Share

Seseorang yang enggan membagikan santapannya kerap kali dinilai pelit atau tidak memikirkan orang lain. Padahal, pilihan tersebut tidak selamanya menjadi indikator dari tabiat yang buruk.

Bagi sebagian individu, hidangan tertentu memiliki arti emosional yang personal sehingga mereka enggan memberikannya kepada orang lain. Ada pula individu yang sangat memperhatikan kalkulasi porsi konsumsi mereka sendiri.

Sebuah riset OpinionWay mengenai pola makan berpasangan yang difasilitasi oleh HelloFresh menunjukkan data menarik. Hasil studi tersebut mendapati bahwa 40 persen masyarakat Prancis menolak secara tegas untuk membagi makanan dengan pasangan mereka.

Dikutip dari HaiBunda, para pakar psikologi dan sosiologi menguraikan beberapa indikasi kepribadian yang melekat pada individu dengan kecenderungan tersebut.

Individu yang menolak membagi hidangannya umumnya memiliki resistensi yang tinggi jika hak miliknya diusik orang lain. Mereka memandang bahwa tindakan mencicipi makanan sama saja dengan pemotongan porsi secara paksa.

"Ada paradoks nyata di sini," kata dosen psikologi makanan, Estelle Masson, dilansir laman World Crunch.

"Meskipun pada prinsipnya kita dapat berbagi makanan, ketika makanan sudah berada di piring, makanan itu menjadi milik individu dan tidak dapat lagi diklaim oleh orang lain. Beberapa orang mungkin merasa kehilangan haknya ketika mereka dipaksa untuk berbagi porsi makanannya."

Faktor emosional lain yang melandasi sikap ini adalah adanya kecemasan akan kekurangan porsi. Muncul kekhawatiran bahwa santapan yang tersisa tidak lagi mampu memberikan kepuasan maksimal bagi diri mereka sendiri.

Kecemasan psikologis ini biasanya berakar dari pola asuh masa kecil, terutama pada lingkungan keluarga yang menempatkan makanan sebagai isu krusial.

"Individu tersebut tidak mendapatkan porsi penuhnya, meskipun telah ada kesepakatan di awal saat mulai makan. Ketidakseimbangan ini menciptakan frustrasi," ungkap Masson.

Pendirian Kokoh dan Identitas Diri

Sikap mempertahankan isi piring juga dapat dikategorikan sebagai respons naluriah yang bertujuan untuk memproteksi apa yang menjadi bagian haknya. Namun, langkah ini terkadang diambil sebagai perwujudan dari keteguhan prinsip hidup.

"Saya menyadari bahwa saya terlalu baik sehingga perlu belajar untuk menjaga kepentingan saya sendiri, tanpa melakukannya dengan mengorbankan orang lain. Saya suka membuat orang bahagia dan menjamu tamu, tetapi saya tidak percaya pada pengorbanan diri," ungkap Masson.

Penyebab mendasar lainnya berkaitan erat dengan personifikasi serta keunikan gaya makan dari masing-masing individu. Keengganan ini muncul karena adanya kesadaran bahwa tiap orang memiliki preferensi rasa yang berbeda-beda.

Sosiolog makanan Eric Birlouez memberikan gambaran mengenai transformasi kebiasaan makan yang terjadi di masyarakat.

"Sepuluh tahun yang lalu, sebagian besar orang Prancis akan makan bersama keluarga di meja makan, di mana, secara umum, semua orang memiliki isi piring yang sama. Saat ini, kita melihat bahwa setiap orang menginginkan sesuatu yang berbeda di piring mereka," kata sosiolog makanan Eric Birlouez.

Komposisi makanan di atas piring pada era modern kini bertransformasi menjadi representasi langsung dari prinsip hidup dan jati diri seseorang. Seseorang memilih tidak membagi makanannya demi menegaskan komitmen personal tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author