Memahami Dismatur pada Bayi Baru Lahir dari Penyebab hingga Pencegahan
Istilah prematur dan dismatur memiliki perbedaan mendasar meski sekilas memiliki ciri fisik serupa. Dilansir dari HaiBunda, kondisi prematur ditandai dengan kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu dengan organ tubuh yang belum matang.
Sementara itu, bayi dismatur lahir cukup bulan tetapi memiliki berat badan lebih rendah dari standar usianya. Dismaturitas terjadi ketika bayi lahir dengan berat badan di bawah persentil 10 pada kurva pertumbuhan intrauterin atau tergolong Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK).
Kondisi ini mengindikasikan adanya retardasi pertumbuhan intrauteri akibat gangguan sirkulasi serta efisiensi fungsi plasenta.
Gangguan pertumbuhan intrauterin yang memicu kelahiran dismatur dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
- Faktor janin: Kelainan kromosom, infeksi janin kronik, disotonomia familial, retardasi, kehamilan ganda, hingga aplasia pankreas.
- Faktor plasenta: Berat plasenta yang kurang, plasenta berongga, berkurangnya luas permukaan, plasentitis vilus, tumor korioangioma, pelepasan plasenta, serta sindrom transfusi bayi kembar.
- Faktor ibu: Adanya riwayat toksemia, hipertensi, penyakit ginjal, hipoksemia, penyakit jantung sianotik, penyakit paru, malnutrisi, anemia sel sabit, hingga ketergantungan alkohol, rokok, atau obat narkotik.
Gejala Klinis dan Stadium Dismatur
Gejala dismaturitas bervariasi tergantung usia kelahirannya. Pada bayi cukup bulan atau post-term, gejala pelisutan terlihat menonjol. Defisit nutrisi dalam kandungan juga memicu risiko gawat janin yang terbagi dalam tiga tingkatan.
Gawat janin akut memicu masalah perinatal tanpa pelisutan atau retardasi pertumbuhan. Gawat janin subakut menunjukkan tanda pelisutan tanpa retardasi pertumbuhan. Sedangkan gawat janin kronik ditandai dengan munculnya retardasi pertumbuhan secara jelas.
Kondisi bayi dismatur terbagi menjadi tiga stadium perkembangan fisik:
- Stadium 1: Bayi tampak kurus, relatif panjang, serta kulit longgar dan kering seperti perkamen tanpa noda mekonium.
- Stadium 2: Menunjukkan tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit, plasenta, dan tali pusat akibat pengendapan mekonium dari anoksia intrauteri.
- Stadium 3: Menunjukkan tanda stadium kedua ditambah warna kuning pada kulit, kuku, serta tali pusat akibat anoksia intrauteri yang berlangsung lama.
Metode Perawatan dan Pencegahan
Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan Perawatan Metode Kangguru (PMK) untuk menjaga suhu tubuh bayi. Metode ini dilakukan dengan kontak kulit ke kulit secara terus-menerus antara ibu dan bayi, meningkatkan frekuensi menyusui, serta merencanakan kepulangan rumah sakit lebih awal.
Posisi PMK dilakukan dengan meletakkan bayi secara tegak di antara dada ibu, kepala miring ke salah satu sisi dan sedikit mendongak (ekstensi) agar jalan napas tetap terbuka. Kaki bayi diposisikan fleksi menyerupai katak. Praktik ini dapat dilakukan minimal 1 jam oleh ibu, ayah, atau anggota keluarga lainnya.
Selain dalam pengawasan dokter, perawatan lanjutan meliputi pemenuhan nutrisi ASI sesuai jadwal, kecukupan waktu istirahat, kelengkapan imunisasi, pemantauan tumbuh kembang, pemberian oksigen jika diperlukan untuk mencegah hipoksia, serta mencuci tangan sebelum memegang bayi.
Langkah pencegahan dapat dilakukan sejak masa kehamilan dengan memeriksakan diri secara rutin ke dokter guna memantau berat janin lewat USG. Ibu hamil juga diimbangi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol.