Megawati dan Anies Hadiri Peluncuran Buku Otobiografi Erros Djarot di Jakarta
Peluncuran buku otobiografi Erros Djarot jilid 2 dan 3 berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, pada Minggu sore, 9 Agustus 2026. Acara tersebut dihadiri Presiden ke-5 RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, serta sejumlah tokoh nasional lain.
Buku ini menjadi kelanjutan dari jilid pertama yang diluncurkan Oktober tahun lalu. Peluncuran jilid kedua dan ketiga menyuguhkan pesan moral mendalam dan diwarnai dengan bedah buku yang dimoderatori oleh wartawan senior Bambang Harymurti.
Megawati hadir mengenakan busana batik merah hitam dan didampingi keluarga besar Soekarno, seperti Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno, serta Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga. Anies Baswedan juga hadir bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan sejumlah tokoh lainnya.
"Sampaikan kebenaran itu walau menyakitkan. Sebelum kebenaran yang kau sembunyikan menggerogoti pikiran dan batinmu selamanya," kata Erros Djarot dalam kutipan pesan moral di acara.
Peluncuran ini dihiasi pertunjukan musik dari musisi ternama Indonesia, seperti Once Mekel, Fryda Lucyana, Balawan, Dira Sugandi, dan Sastrani, dengan komposer Anwar Fauzi serta penampilan spesial dari pentolan KLA Project, Adi KLA.
Dalam kesempatan yang sama, sejumlah tokoh ikut membagikan cerita tentang peran Erros Djarot dalam perjalanan politik dan budaya Indonesia. Haidar Bagir, intelektual dan Direktur Utama Kelompok Mizan, menilai biografi ini lebih banyak membahas gagasan Erros daripada sekadar kisah pribadi.
"Islam puritan itu biasanya merujuk pada paham salafy," ujar Haidar saat menjelaskan filosofi sufistik yang diangkat dalam buku tersebut.
Sementara itu, Laksamana Sukardi mengungkapkan peran Erros dalam membangun citra Megawati sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru dan kontribusinya dalam partai yang kemudian menjadi PDI Perjuangan.
"Erros Djarot adalah konseptor dan komunikator politik karena kenalannya yang luar biasa di masa rezim Orde Baru berkuasa," ujar Laksamana.
Mantan Kepala Kepolisian RI Surojo Bimantoro juga menceritakan peran pentingnya menjaga netralitas di Kongres Luar Biasa PDI tahun 1993, atas permintaan Erros, saat terjadi usaha penghalangan Megawati menjadi Ketua Umum PDI.
"Erros minta saya bersikap netral karena ada usaha di internal PDI yang mencegah Megawati menjadi Ketua Umum PDI saat itu," ujar Bimantoro.
Bimantoro juga mengisahkan adanya komunikasi antara tokoh PDI dengan anak Presiden Soeharto terkait persetujuan kepemimpinan Megawati, yang membuat suasana politik saat itu cukup kompleks.
"Apakah dia benar telepon dengan anak presiden, saya tidak tahu," ujar Bimantoro sambil tertawa.
Peluncuran buku ini juga diwarnai momen penting bertemunya Megawati dan Anies Baswedan, yang dalam sepekan terakhir dua kali terlihat bersama dalam acara berbeda, termasuk pernikahan keluarga Megawati awal Agustus 2026.
Dalam acara pernikahan, Anies tampak berbincang dan bersalaman dengan Megawati, menunjukkan keakraban di antara keduanya, yang menarik perhatian publik dan media.