Aparat Maroko Pukul Mundur Ratusan Migran Ilegal di Perbatasan Ceuta
Aparat keamanan Maroko menggagalkan upaya ratusan migran ilegal yang mencoba menerobos wilayah eksklave Spanyol di Ceuta, Afrika Utara. Penindakan di pinggiran kota Fnideq ini mengamankan sedikitnya 111 orang pada Minggu (16/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Sebagian besar warga asing asal wilayah Afrika sub-Sahara tersebut ditangkap di sekitar area Castillejos yang berjarak sekitar tiga kilometer dari garis perbatasan. Kepolisian Maroko mengerahkan pasukan antihuru-hara dan menggunakan gas air mata guna membubarkan kerumunan migran di perbukitan.
Langkah tegas ini dilakukan setelah beredarnya ajakan penyeberangan massal di media sosial. Otoritas Maroko meningkatkan pengamanan di pintu masuk pemecah gelombang hingga 10 kali lipat serta menerjunkan personel angkatan darat, kapal cepat angkatan laut, dan pesawat nirawak.
Pemerintah Spanyol turut mengerahkan lebih dari 1.500 petugas keamanan untuk berpatroli di kawasan eksklave tersebut. Pengangkatan pagar logam dan penghalang terapung juga dipasang untuk mencegah gelombang susulan setelah insiden akhir Juli lalu yang menewaskan 100 orang.
Lonjakan kedatangan migran ini sempat memicu ketegangan diplomatik di Uni Eropa. Italia merespons krisis tersebut dengan menangguhkan aturan pergerakan bebas Schengen terhadap Spanyol dan memberlakukan pemeriksaan ketat, yang kemudian didukung oleh Finlandia dan Denmark.
Menanggapi tekanan dari sejumlah negara anggota Uni Eropa, Pemerintah Spanyol menegaskan status hukum wilayah eksklave tersebut di Afrika Utara.
"Ceuta bukan bagian dari wilayah Schengen," kata Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol.
Ia menambahkan bahwa para migran ilegal yang terisolasi di eksklave tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan ke wilayah daratan utama Spanyol maupun negara-negara Eropa lainnya.