Marco Rubio Peringatkan Risiko Iran di Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memperingatkan para pemimpin Asia di Manila, Filipina, pada Rabu (22/07) mengenai ancaman Iran yang menuntut kontrol dan biaya pelayaran di Selat Hormuz terhadap perekonomian global, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio pada pembukaan forum tahunan menteri luar negeri ASEAN dan negara mitra. Kendati fokus Washington terbagi oleh konflik Timur Tengah, pemerintah AS menegaskan dukungan penuh terhadap kawasan Asia Tenggara.
"Kami mendukung ASEAN sepenuhnya," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.
Rubio menyoroti risiko besar jika ada pihak yang diizinkan membatasi jalur pelayaran internasional serta memungut biaya secara sepihak.
"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah, di mana sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan jika tidak dibayar mereka akan menyerang kapal-kapal yang melintas, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Hal itu bisa terulang di berbagai belahan dunia lainnya, termasuk di kawasan ini," ujar Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.
Ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan maritim juga ditekankan oleh Rubio dalam kaitannya dengan dinamika kawasan Indo-Pasifik.
"Jika perairan tersebut jatuh ke bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, baik Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru yang serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.
Pertemuan di Manila tersebut dihadiri para diplomat tinggi dari AS, Cina, dan Rusia. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband dijadwalkan tiba pada Rabu, sementara agenda perundingan berlangsung hingga Jumat (24/07).
Di sela agenda, Rubio menggelar dialog bersama menteri luar negeri dari anggota Kemitraan Quad, yakni Australia, India, dan Jepang. Blok tersebut menyepakati penguatan kerja sama teknologi, bantuan kemanusiaan, serta keamanan maritim guna mengimbangi pengaruh Cina.
"Kami bersatu dalam keyakinan bahwa perdamaian dan stabilitas di kawasan maritim Indo-Pasifik merupakan fondasi bagi keamanan dan kemakmuran kawasan," kata Pemimpin Kemitraan Quad.
Ketegangan regional di Laut Cina Selatan menjadi salah satu bahasan utama perundingan tiga hari yang dimulai Selasa (21/07). Klaim kedaulatan Beijing memicu kekhawatiran dari negara-negara sekitar, termasuk insiden keterlibatan penjaga pantai Cina dan personel Filipina pada Senin (20/07).
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menilai insiden tersebut memicu kekhawatiran atas perilaku yang berisiko dan mengganggu stabilitas. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mendorong keterbukaan saat bertemu rekan sejawat dari ASEAN pada Rabu (22/07).
"Mari kita menjadi jangkar bagi perdamaian dan pembangunan, baik di tingkat kawasan maupun global," ujar Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi.
Dalam kesempatan terpisah, Rubio mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar untuk membahas isu perundingan perdagangan bilateral dan situasi perang Iran.
"Menteri Rubio dan Menteri Jaishankar sepakat mengenai pentingnya segera menyelesaikan perjanjian perdagangan sementara, yang saat ini hampir selesai," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
Di samping isu Timur Tengah dan Laut Cina Selatan, perkembangan situasi Myanmar turut mengemuka. Pemimpin junta Min Aung Hlaing dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Thailand pada 6-7 Agustus mendatang untuk bertemu Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul.
"Tentu saja, saya memiliki harapan, namun saya harus bersikap realistis. Mari kita terus melangkah maju," ujar Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow.