Mengenal Manfaat Sup Ular Hidangan Ekstrem Tradisional Asal China
Sup ular tergolong sebagai salah satu hidangan ekstrem yang masih dikonsumsi oleh masyarakat di China. Makanan ini menggunakan bahan utama berupa daging ular yang dikenal sebagai satwa berbisa sekaligus buas. Dikutip dari Detik Food yang melansir Times of India (24/6/2026), kuliner tradisional ini memiliki keterikatan historis yang kuat dengan kepercayaan medis masyarakat setempat.
Hidangan ini sudah dikonsumsi selama berabad-abad, terutama di wilayah Selatan seperti Guangdong dan Hong Kong. Sajian ini terkenal memiliki kuah kaldu yang kental serta gurih dari olahan satu atau beberapa spesies ular. Daging hewan tersebut diiris tipis-tipis untuk kemudian dimasak secara perlahan bersama bahan pendukung lainnya.
Proses pengolahan hidangan ini memadukan daging ular dengan beberapa bahan komplementer. Campuran tersebut meliputi daging ayam, jamur, jahe, rebung, kulit jeruk, serta bermacam bumbu dan rempah-rempah.
Kuliner unik ini umumnya disajikan ketika memasuki bulan-bulan dingin. Masyarakat dalam budaya kuliner China menganggap sajian tersebut sebagai makanan yang berkhasiat untuk menghangatkan tubuh. Meskipun menggunakan bahan dasar reptil berbahaya, sajian ini dipastikan tidak mengandung bisa sama sekali. Berdasarkan penjelasan para ahli, bisa ular diproduksi pada kelenjar khusus dan hanya disalurkan melalui taring ketika menggigit.
Kelenjar racun beserta bagian lain yang tidak dapat dikonsumsi akan dibuang saat proses penyiapan bahan baku. Langkah ini membutuhkan kehati-hatian serta keahlian khusus agar proses pengolahannya tetap aman. Oleh karena itu, menu ini secara tradisional selalu diracik oleh para profesional terlatih. Mereka merupakan orang-orang yang sudah terbiasa menangani dan mengolah ular secara aman.
Khasiat Kesehatan dan Kandungan Nutrisi
Pemanfaatan ular sebagai makanan fungsional juga dilakukan oleh Suku Arfak selama beberapa generasi. Terdapat lima spesies yang kerap diolah, yaitu Leiophython albertisii, Apodora papuana, Morelia amethystine, Morelia viridis, dan Micropechis ikaheka. Bagian yang kerap diambil dari hewan ini meliputi daging, lemak, hingga empedu.
Konsumsi bahan-bahan tersebut dipercaya mampu menyembuhkan gangguan saluran pernapasan, penyakit kulit, penyakit kronis, sekaligus mendongkrak vitalitas tubuh. Catatan sejarah menunjukkan menu ini sudah menjadi bagian dari kuliner Tiongkok Selatan selama ribuan tahun. Resepnya paling banyak didokumentasikan oleh Jiang Kongyin (1864-1952), seorang cendekiawan kekaisaran terakhir Dinasti Qing asal Guangzhou.
Salah satu varian yang paling populer adalah sup lima ular. Menu ini diklaim dalam pengobatan tradisional Tiongkok berkhasiat melancarkan sirkulasi darah serta mengurangi kadar kelembapan di dalam tubuh.
Dari sudut pandang medis modern, daging ular dikonfirmasi memiliki kandungan protein yang tinggi dan relatif rendah lemak. Struktur dagingnya juga menyimpan kekayaan vitamin serta berbagai mineral penting. Kelestarian tradisi menjadi faktor utama mengapa masyarakat China masih mengonsumsi makanan ini hingga sekarang. Kuliner ini dipandang sebagai warisan budaya berharga yang erat dengan nuansa nostalgia serta momen perayaan bersama keluarga.