Mahasiswa UPH dan UNJ Raih Juara Pertama Pilmapres Nasional 2026

Share

Mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) Tiffney Tyara Setyoko dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rangga Kusuma Putra berhasil meraih Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026 di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, pada 4-8 Agustus 2026.

Ajang tahunan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini mengukuhkan Tiffney sebagai Juara 1 Program Sarjana sekaligus mencatatkan sejarah baru bagi perguruan tinggi swasta sejak kompetisi digelar pada 2014. Sementara itu, Rangga Kusuma Putra meraih Juara 1 Kategori Mahasiswa Disabilitas Berprestasi.

Tiffney, mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter UPH angkatan 2023, mengusung inovasi Smart Febrile Patch. Inovasi sensor non-invasif berbasis keringat ini dirancang khusus untuk membantu skrining dini tingkat keparahan penyakit infeksi bergejala demam berdasarkan biomarker fisiologis tubuh.

Gagasan tersebut dikembangkan untuk merespons kondisi di Kabupaten Tangerang yang mencatat 56 persen kasus penyakit infeksi berstatus suspek pada Juni 2025. Inovasi ini juga dinilai sejalan dengan penanganan krisis resistensi antibiotik global menurut data WHO 2023.

"Persiapannya cukup panjang dan intensif. Saya banyak berlatih untuk mematangkan gagasan, menyusun presentasi, mengantisipasi pertanyaan juri, serta memperdalam materi untuk sesi wawancara dan Bahasa Inggris," ujar Tiffney Tyara Setyoko, Mahasiswi UPH.

Tiffney yang sebelumnya menjuarai Pilmapres LLDIKTI Wilayah III menyingkirkan pesaing dari berbagai perguruan tinggi negeri ternama. Seleksi tingkat nasional tersebut diikuti oleh 60 mahasiswa hasil saringan dari 17 wilayah LLDIKTI hingga mengerucut menjadi 19 finalis terbaik.

"Puji Tuhan, saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Saya percaya semua yang saya raih merupakan anugerah Tuhan dan tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama UPH yang terus mendampingi saya selama proses persiapan hingga tahap nasional. Bisa membawa nama UPH dan menjadi mahasiswa pertama yang meraih Juara 1 PILMAPRES Nasional tentu menjadi suatu kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi saya.

Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk terus belajar, berproses, dan memberikan yang terbaik dari setiap kesempatan yang Tuhan percayakan. Saya berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UPH lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan membawa dampak positif melalui bidang yang mereka tekuni," kata Tiffney Tyara Setyoko, Mahasiswi UPH.

Inovasi plester pintar tersebut dirancang untuk mengatasi persoalan keterlambatan diagnosis dan meminimalisasi penggunaan obat secara tidak rasional oleh masyarakat.

"Kami berharap teknologi tersebut pada tahap pengembangannya dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih dini untuk mencari pertolongan medis, sekaligus mengurangi risiko keterlambatan penanganan dan penggunaan antibiotik secara tidak rasional," tutur Tiffney Tyara Setyoko, Mahasiswi UPH.

Selain inovasi plester pintar, Tiffney juga memiliki rekam jejak publikasi ilmiah pada jurnal Scopus Q1, oral presenter forum internasional, serta program pertukaran riset di Taiwan.

"Demam sering menjadi gejala awal infeksi, tetapi masyarakat belum memiliki parameter objektif untuk menentukan apakah kondisinya masih aman atau sudah memasuki fase kritis. Karena itu, saya mengembangkan patch yang mengukur biomarker fisiologis sebagai indikator untuk membantu melihat respons inflamasi dan kondisi fisiologis tubuh," jelas Tiffney Tyara Setyoko, Mahasiswi UPH.

Pada kategori lain, Rangga Kusuma Putra dari Program Studi Pendidikan Bisnis FEB UNJ menorehkan sejarah bagi kampusnya pada kategori baru Mahasiswa Disabilitas Berprestasi yang diikuti 16 finalis nasional.

"Prestasi ini saya persembahkan untuk keluarga, dosen, teman-teman, dan seluruh sivitas akademika UNJ yang selama ini memberikan dukungan. Pilmapres mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Saya berharap semakin banyak mahasiswa penyandang disabilitas yang percaya diri untuk mengembangkan potensi dan berkompetisi di berbagai ajang," ujar Rangga Kusuma Putra, Mahasiswa UNJ.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo memberikan apresiasi atas pencapaian Tiffney dan pemerataan kualitas pendidikan perguruan tinggi swasta.

"Prestasi Tiffney Tyara Setyoko patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Ia telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, memiliki kapasitas akademik, daya pikir kritis, kemampuan riset, kreativitas, serta keberanian berinovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ini sekaligus menjadi pesan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak boleh diukur semata dari asal perguruan tingginya, melainkan dari karya, kompetensi, integritas, dan dampak yang mampu diberikan kepada masyarakat," ujar Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI.

Ia menyoroti bahwa proses kompetisi yang ketat memerlukan kemampuan komprehensif dari para mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan nyata.

"Yang membuat prestasi ini semakin penting adalah proses panjang yang dilalui Tiffney. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, sebanyak 60 mahasiswa kemudian melaju ke tingkat nasional dan akhirnya tersaring menjadi 19 finalis. Artinya, untuk menjadi juara diperlukan kombinasi antara prestasi akademik, kemampuan berpikir, gagasan yang relevan, komunikasi yang kuat, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi persoalan nyata. Tiffney berhasil memenuhi seluruh tantangan tersebut," kata Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI.

Bambang Soesatyo menilai teknologi medis non-invasif tersebut sangat tepat untuk membantu masyarakat mengambil keputusan cepat terkait kesehatan dasar.

"Smart Febrile Patch memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk sebuah inovasi. Teknologi kesehatan semestinya diarahkan untuk membuat masyarakat lebih cepat mengenali kondisi tubuhnya dan mengambil keputusan yang tepat. Jika gagasan ini kelak dapat dikembangkan melalui penelitian dan uji klinis yang memadai, manfaatnya berpotensi besar, terutama dalam mendukung skrining awal dan membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan langkah pemeriksaan maupun penanganan berikutnya," jelas Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI.

Atas potensi pengobatan mandiri yang salah akibat penanganan terlambat, ia menekankan pentingnya pengembangan inovasi diagnostik di tingkat nasional.

"Ketika diagnosis terlambat atau informasi awal mengenai kondisi pasien terbatas, ada risiko masyarakat melakukan pengobatan sendiri atau menggunakan antibiotik secara tidak tepat. Karena itu, inovasi diagnostik dan skrining dini harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional. WHO sendiri menempatkan pengembangan tes cepat di titik layanan untuk membedakan infeksi bakteri dan virus sebagai salah satu prioritas dalam menghadapi resistensi antimikroba," kata Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI.

Ia mendorong adanya kolaborasi lintas sektor agar hasil riset mahasiswa dapat diimplementasikan dalam skala industri medis.

"Prestasi Tiffney harus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan di Indonesia. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk mengembangkan ide sejak di bangku kuliah, sementara perguruan tinggi, pemerintah, rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian harus membangun jembatan agar gagasan tersebut dapat bergerak dari ruang kompetisi menuju laboratorium, uji lapangan, uji klinis, hingga apabila terbukti aman dan efektif dapat diimplementasikan secara luas," pungkas Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI.

Dukungan terhadap hasil prestasi ini turut disampaikan oleh Pimpinan Student Development UPH yang mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan jajaran pendamping.

"Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi UPH sekaligus tonggak penting bagi perguruan tinggi swasta di Indonesia, serta membuktikan bahwa dengan talenta, kerja keras, pembinaan, dan dukungan yang tepat, mahasiswa perguruan tinggi swasta mampu meraih prestasi tertinggi di tingkat nasional. Kami juga mengapresiasi para dosen, orang tua, dan seluruh pihak yang telah mendampingi Tiffney, dan berharap pencapaian ini dapat menginspirasi mahasiswa UPH lainnya untuk terus mengembangkan potensi, membawa talenta mereka ke tingkat nasional maupun internasional, serta menghadirkan dampak nyata bagi komunitas, masyarakat, dan bangsa," ungkap Andry M. Panjaitan, Associate Vice President Student Development UPH.

Pihak Fakultas Kedokteran UPH menekankan bahwa keberhasilan ini memperkuat integrasi pendidikan medis dengan kebutuhan langsung di masyarakat.

“Gagasan Tiffney lahir dari pertemuan antara ilmu kedokteran, penelitian, teknologi, dan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Inilah yang ingin terus kami kembangkan di FK UPH: mahasiswa tidak hanya belajar mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi belajar melihat masalah, bertanya, meneliti, dan mencari solusi,” katanya Prof. Dr. Eka, Dekan Fakultas Kedokteran UPH.

Ia menambahkan pentingnya pengembangan karakter mahasiswa kedokteran yang berorientasi pada pelayanan masyarakat.

“Gagasan Tiffney lahir dari pertemuan antara ilmu kedokteran, penelitian, teknologi, dan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Inilah yang ingin terus kami kembangkan di FK UPH: mahasiswa tidak hanya belajar mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi belajar melihat masalah, bertanya, meneliti, dan mencari solusi,” kata Prof. Dr. Eka, Dekan Fakultas Kedokteran UPH.

Sementara itu, Rektor UNJ Prof. Komarudin menegaskan komitmen kampus dalam menyediakan akses pendidikan inklusif tanpa diskriminasi.

"Prestasi yang diraih Rangga menjadi kebanggaan bagi UNJ. Capaian ini menunjukkan bahwa kualitas, kerja keras, dan semangat belajar merupakan faktor utama dalam meraih prestasi. UNJ akan terus memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat," kata Komarudin, Rektor UNJ.

Pembinaan kemahasiswaan UNJ dinilai berkesinambungan hingga mampu menghasilkan mahasiswa berdaya saing tinggi di tingkat nasional.

"Pilmapres bukan hanya kompetisi untuk memilih mahasiswa terbaik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kepedulian terhadap persoalan sosial. Prestasi Rangga menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan di UNJ berjalan secara berkesinambungan dan mampu menghasilkan mahasiswa yang berdaya saing di tingkat nasional," ujarnya Prof. Ifan Iskandar, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.

Pihak kemahasiswaan UNJ berharap capaian ini memicu semangat mahasiswa lain untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.

"Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui Rangga sejak seleksi di tingkat universitas hingga nasional. Kami berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNJ untuk terus berprestasi, berinovasi, dan aktif memberikan kontribusi kepada masyarakat. Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni akan terus memperkuat pembinaan agar semakin banyak mahasiswa UNJ yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," ujar Yasep Setiakarnawijaya, Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNJ.

Secara keseluruhan, Pilmapres Nasional 2026 diikuti oleh 54 finalis dari 31 perguruan tinggi yang terbagi dalam kategori Sarjana, Diploma, dan Mahasiswa Disabilitas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author