Mahasiswa FK Unair Ikuti Stase Bedah Saraf di Slovakia

Share

Kesempatan berharga diraih mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Hanifa Lathfi Amali, yang berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Slovakia. Dikutip dari Detikcom, Lathfi menjalani stase bedah saraf di Kramáre Hospital, Bratislava, melalui wadah SCOPE IFMSA bersama empat delegasi Indonesia lainnya.

Selama di Kramáre Hospital, Lathfi menjalani serangkaian aktivitas medis profesional setiap harinya. Rutinitas pagi diawali dengan sesi morning round bersama dokter spesialis bedah saraf untuk membahas hasil operasi sebelumnya serta merencanakan tindakan teknis pembedahan harian.

"Di morning round, kami berdiskusi mengenai hasil operasi sebelumnya dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan hari itu, termasuk teknik pembedahan yang meyakinkan," kata Lathfi.

Seluruh prosedur di ruang operasi dijalankan sesuai standar sterilisasi World Health Organization (WHO). Pembelajaran ini memberi kesempatan bagi Lathfi menyaksikan langsung anatomi tubuh serta pemanfaatan teknologi medis mutakhir, seperti mikroskop bedah fluoresensi dan pemetaan lokasi tumor berbasis USG Artificial Intelligence (AI).

Pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat menyaksikan tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection, yakni prosedur pengangkatan tumor otak melalui tulang sphenoid di hidung tanpa bedah kepala.

"Ada satu momen yang sangat berkesan, yaitu tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection. Dokter mengambil tumor di otak itu lewat tulang sphenoid di dalam hidung, jadi tidak perlu membuka kepala pasien. Selain itu, ada juga teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak. Itu sangat keren!" ujarnya.

Proses seleksi program ini melibatkan tes Bahasa Inggris hingga wawancara. Pihak kampus serta organisasi mewajibkan peserta menyiapkan asuransi dan kontak darurat internasional.

Selama menjalani stase, Lathfi dapat lancar berdiskusi Bahasa Inggris dengan dokter spesialis. Namun, kendala komunikasi bahasa Slovak sempat terjadi saat berinteraksi dengan perawat senior hingga harus memanfaatkan bahasa tubuh.

"Pernah suatu kali kami meminta baju scrub sekali pakai yang berlengan panjang karena berhijab. Perawatnya mengangguk, tapi yang dibawa ternyata malah kapas-kapas steril. Akhirnya kami tertawa dan tetap memakai baju scrub seadanya," kenangnya.

Pertukaran Budaya Internasional

Program internasional ini diikuti 25 mahasiswa kedokteran dari berbagai negara seperti Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, hingga Mesir. Selain aktivitas medis, komite lokal menyelenggarakan kegiatan pertukaran budaya seperti keliling kota Bratislava dan Trnava, berenang di Danau Danube, hingga National Food and Beverage Party.

Mengingat masa perkuliahan berjalan singkat, Lathfi mendorong sesama mahasiswa untuk berani mengambil peluang internasional.

"Siapkan bahasa Inggris, cari tahu informasi negaranya, dan aktiflah berorganisasi. Ini adalah investasi relasi sejawat dokter di masa depan yang sangat berharga," pesannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author