Maestro Seni Lukis Nasirun Meninggal Dunia di Yogyakarta

Share

Dunia seni rupa Indonesia berduka atas wafatnya maestro lukis asal Cilacap, Nasirun, yang berdomisili di Yogyakarta pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Seniman berusia 61 tahun tersebut mengembuskan napas terakhirnya usai mencatatkan jejak panjang dalam perkembangan seni nasional.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Perumahan Bayeman Permai, Bantul, sebelum dikebumikan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri. Sepanjang hidupnya, pelukis yang identik dengan gaya ekspresif, pewayangan, dan mitologi Jawa ini dikenal memiliki pola hidup unik, seperti menolak gawai sejak tahun 2000 demi menjaga fokus berkarya.

Selain aktif melukis hingga memecahkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Nasirun mendirikan museum di kompleks kediamannya untuk mengoleksi ribuan karya seni dan arsip milik para seniman pendahulu, termasuk ratusan karya dari Sanggar Bambu.

Sejak akhir dekade 1990-an, nama Nasirun melejit di pasar seni rupa hingga mendapat sebutan khusus dari publik.

"Di tahun 1997, saya termasuk yang dibilang seniman gorengan. Sekarang saya merasa keberhasilan itu salah satu yang membuat laku dan sekarang saya merasa berbalik 100 persen," kata Nasirun, Pelukis Maestro.

Meski lukisannya dinilai bernilai komersial tinggi, ia menegaskan tidak pernah terfokus pada pergerakan pasar saat menciptakan karya.

"Saya termasuk yang 'saruh' tentang pasar. Belakangan ini saya agak sedikit mau bikin yang monumen-monumen. Saya senang karya yang agak spekta-lah, karena minimal saya menyemangati diri sendiri. Syukur-syukur bisa memberikan semangat pada publik," ujar Nasirun, Pelukis Maestro.

Proses kreatif yang dilaluinya juga tidak lepas dari masa-masa kejenuhan, yang disikapi dengan eksplorasi medium baru seperti melukis badan mobil.

"Saya berpikir harus buat karya yang minimal bisa menyemangati diri sendiri. Saya belajar menertawakan diri sendiri," ucap Nasirun, Pelukis Maestro.

Melalui keuntungan yang didapat dari penjualan karyanya, Nasirun menyisihkan rezeki untuk mengumpulkan dan merawat karya seniman lain agar tidak hilang dimakan zaman.

"Kalau istilahnya Pak Edi, tiada hari tanpa malam, karena malam gelap gulita tentu hanya dengan teplok. Mereka berdiskusi dan paginya kayak menyongsong fajar pagi hari itu dia berkarya… Jikalau aku dapat rezeki, ya ada hak mereka untuk melacak kearifan. Saya dulu berkelakar dengan istilah zakat kebudayaan," tutur Nasirun, Pelukis Maestro.

Aksi mengoleksi karya seni tersebut ia niatkan demi menjaga memori kolektif generasi mendatang terhadap sejarah seni rupa Indonesia.

"Saya takut mereka (seniman lain) dilupakan oleh generasi sekarang. Karena sebenarnya dari merekalah saya betul-betul ada prosesnya dan dalam situasi apapun mereka karya," kata Nasirun, Pelukis Maestro.

Ia menyoroti banyaknya karya penting dari era lampau yang luput dari perhatian para pengumpul seni lokal.

"Saya juga bingung, kayaknya ada amanah tersendiri. Contohnya saja ketika Werner Krauss memberikan sketsa Raden Saleh, ia dikasih aja gitu cuma-cuma. Padahal kan penting sekali karya ini yah. Saya juga bingung," ujar Nasirun, Pelukis Maestro.

Keputusannya merawat ratusan karya sejarah dari berbagai komunitas seni bertujuan murni untuk mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian.

"Gak banyak yang tahu, makanya saya koleksi dan cukup lengkap karyanya. Ya tujuan saya cuma satu untuk berbagi ke anak muda agar tidak melupakan sejarah," ucap Nasirun, Pelukis Maestro.

Ruang koleksi milik Nasirun di Kasihan, Bantul, senantiasa terbuka luas bagi siapa saja yang ingin mempelajari karya para maestro legendaris.

"Ini bukan soal uang tapi soal riset. Siapapun boleh meriset karya di sini," kata Nasirun, Pelukis Maestro.

Bagi sosok yang kerap tampil nyentrik dengan sarung ini, dunia seni lukis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupannya.

"Melukis itu ibarat jiwanya saya," tutur Nasirun, Pelukis Maestro.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Nasirun seni rupa Yogyakarta
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author