Lula da Silva Mencalonkan Diri Kembali dalam Pemilu Presiden Brasil
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengumumkan kembali pencalonan dirinya sebagai presiden untuk periode keempat pada Minggu (2/8/2026). Pencalonan tokoh sayap kiri berusia 80 tahun ini dilakukan menjelang pemilu Oktober mendatang di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Senin (3/8/2026).
Dalam konvensi Partai Pekerja (PT) di Sao Paulo, Lula da Silva memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang dapat diandalkan di tengah gejolak global serta benteng terhadap kebangkitan kelompok sayap kanan jauh. Meskipun nama Trump tidak disebutkan secara eksplisit, agenda konvensi berfokus pada perlindungan kedaulatan Brasil dari ancaman luar akibat perselisihan perdagangan dan diplomatik dengan AS.
Guna menghadapi situasi tersebut, mantan pemimpin serikat pekerja itu menyerukan peningkatan investasi di bidang pertahanan negara secara signifikan.
"Saya ingin bersiap agar tidak ada pihak yang menginvasi negara ini," kata Lula da Silva, Presiden Brasil.
Di sisi lain, Lula da Silva juga merespons keraguan publik mengenai faktor usianya. Mantan pekerja logam yang pernah dipenjara atas kasus korupsi sebelum vonisnya dibatalkan tersebut menegaskan bahwa stamina dan rutinitas olahraganya menjaga kondisi fisiknya tetap berada dalam performa prima.
"Saya ingin melawan penuaan. Saya tidak ingin berjalan tertatih-tatih," ucap Lula da Silva.
Konstitusi Brasil mengatur bahwa seorang presiden dapat menjabat selama dua periode berturut-turut dan diperbolehkan mencalonkan diri kembali setelah jeda tanpa batasan jumlah periode seumur hidup. Lula da Silva menyampaikan bahwa masa jabatan keempat ini akan menjadi yang terakhir bagi dirinya sebelum pensiun bersama sang istri, Rosangela.
Pada pemilu mendatang, Lula da Silva dijadwalkan berhadapan dengan Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro. Flavio mengambil alih peran kepemimpinan setelah ayahnya dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas tuduhan merencanakan kudeta, di mana keluarga Bolsonaro dikenal bersekutu erat dengan Donald Trump.