LPDP Alokasikan Kuota Beasiswa 2026 Didominasi Sektor STEM

Share

Pemerintah memprioritaskan porsi terbesar Beasiswa LPDP Tahap 2 Tahun 2026 untuk program studi bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) serta industri strategis. Pendaftaran program yang dibuka sejak 30 Juni 2026 ini akan resmi ditutup pada Jumat, 31 Juli 2026.

Sementara itu, porsi untuk bidang sosial, humaniora, seni, keagamaan, dan ekonomi dibatasi maksimal 20 persen. Pelamar yang lolos seleksi administrasi dan tahapan berikutnya dijadwalkan mulai kuliah paling cepat pada Januari 2027.

Direktur Utama LPDP Yon Arsal menegaskan komitmen lembaga dalam meningkatkan alokasi penerima beasiswa di sektor STEM secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.

"Kita peningkatan STEM bergerak terus pada 2025 itu 66 sampai 69 persen, 2026 di 74 persen. Kita akan coba sampai minimal 80 persen ke STEM dan STEM related," ujar Direktur Utama LPDP Yon Arsal.

LPDP mencatat pendaftar sering gagal di tahap seleksi berkas akibat kesalahan pecatatan nama atau NIP pada surat usulan, sertifikat bahasa Inggris yang kedaluwarsa sebelum 22 September 2026, skor di bawah standar, serta dokumen LoA yang masih bersyarat.

Melalui media sosial resmi, pihak pengelola beasiswa mengingatkan para pelamar agar lebih teliti saat mengunggah dokumen persyaratan administrasi.

"Jangan sampai perjalananmu menuju beasiswa LPDP terhenti hanya karena kesalahan administrasi yang bisa dihindari," tulis LPDP melalui akun Instagram resminya @lpdp_ri.

Pengelola beasiswa juga memberikan fleksibilitas khusus bagi pendaftar di sektor-sektor prioritas yang program studinya belum tercantum dalam daftar kampus tujuan resmi.

"Pendaftar beasiswa STEMIndustri strategis dan Beasiswa SHARE tetap dapat memilih program studi dan/atau perguruan tinggi yang belum tercantum dalam daftar tujuan LPDP selama memenuhi ketentuan yang berlaku," tulis LPDP.

Untuk mengajukan kampus di luar daftar tersebut, pendaftar luar negeri wajib mengantongi LoA Unconditional dan bukti reputasi unggul global. Sedangkan untuk jalur nonafirmasi dalam negeri, perguruan tinggi harus terakreditasi A atau Unggul, terakreditasi internasional, serta masuk jajaran 1.200 besar QS World University Rankings terbaru.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author