Lomba Seni AI Hari Dugong Thailand Menuai Kritik Warganet

Share

Departemen Pesisir dan Kelautan Thailand menuai kritik publik usai mengumumkan pemenang lomba seni AI bertema perlindungan habitat dugong dalam rangka Hari Konservasi Dugong Nasional pada 15 Agustus 2026. Karya seni AI yang menjuarai kompetisi tersebut memicu kontroversi karena menampilkan sosok dugong dengan kaki belakang serta habitat lamun yang tidak realistis, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Gambar berjudul Under the Azure Light tersebut memenangkan hadiah utama bernilai 3.000 baht atau sekitar Rp 1,6 juta. Penilaian karya yang tidak diungkap identitas pembuatnya ini menggabungkan bobot yang sama antara keputusan panel juri dan jumlah suka dari pengguna media sosial.

Kritik tajam merambah pada aspek anatomi mamalia laut tersebut, mengingat dugong secara biologis hanya memiliki sirip depan dan ekor bercabang tanpa kaki belakang. Selain itu, penggambaran lamun berdaun lebar dan bulat pada batang tegak dinilai tidak mencerminkan ekosistem lamun asli di perairan Thailand.

Sorotan akademis datang dari akademisi Universitas Chulalongkorn yang menilai hasil kecerdasan buatan tersebut seharusnya tetap mengacu pada fakta sains. Gambar hasil buatan AI yang tidak akurat dikhawatirkan memicu kekeliruan informasi di masyarakat, terutama anak-anak, padahal kampanye bertujuan meningkatkan kesadaran konservasi.

Hingga saat ini pihak departemen belum memberikan tanggapan resmi terkait gelombang kritik tersebut. Di sisi lain, data pemerintah mencatat populasi dugong di Thailand kini hanya tersisa sekitar 250 ekor, sebagian besar berada di Provinsi Trang dengan ancaman utama berupa ancaman kelaparan akibat penyusutan padang lamun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author