Senator AS Lindsey Graham Meninggal Dunia Akibat Sakit Mendadak

Share

Senator AS senior dari Partai Republik, Lindsey Graham, dilaporkan meninggal dunia pada usia 71 tahun di kediamannya pada Sabtu (11/7) malam setelah mengalami sakit mendadak. Kabar duka mengenai sekutu dekat Donald Trump tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara kantor resminya kepada CNN. Kantor resmi Graham menyampaikan pengumuman resmi mengenai wafatnya legislator asal South Carolina tersebut. "dari penyakit yang singkat dan mendadak" ujar juru bicara kantor Graham kepada CNN.

Berdasarkan rekaman audio pengiriman darurat yang diperoleh dan ditinjau oleh CNN, petugas medis sempat merespons panggilan darurat medis di kediaman Graham.

"henti jantung" demikian bunyi rekaman medis darurat di kediaman Graham pada Sabtu malam. Pihak perwakilan keluarga juga meminta masyarakat untuk memberikan ruang bagi mereka yang sedang berduka.

"Keluarga Senator Graham menghargai doa saat ini dan meminta privasi selama periode yang sangat sulit ini" kata juru bicara kantor Graham. Presiden AS Donald Trump memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang melalui platform Truth Social pada Minggu pagi.

"Senator Lindsey Graham, salah satu orang dan Senator terhebat yang pernah saya kenal, telah meninggal! Dia selalu bekerja, dan merupakan Patriot Amerika sejati. Lindsey akan sangat dirindukan!!!" tulis Donald Trump, Presiden AS.

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune turut memuji rekam jejak pengabdian militer dan publik Graham selama puluhan tahun. "kekuatan Amerika untuk mencapai kebaikan di dunia" puji John Thune, Pemimpin Mayoritas Senat.

Thune menambahkan bahwa warisan pemikiran sang senator akan terus membekas dalam pertahanan nasional.

"Pengaruhnya terhadap peradilan federal, pertahanan nasional kita, dan South Carolina yang dicintainya akan dirasakan selama beberapa generasi" kata John Thune. Para pemimpin dunia juga ikut menyampaikan belasungkawa, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebutnya sebagai sahabat terbaik negaranya di Washington. "Salah satu sahabat terhebatnya" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Netanyahu menegaskan pentingnya hubungan strategis bilateral yang selalu disuarakan oleh Graham semasa hidupnya.

"Lindsey memahami bahwa keamanan Israel dan Amerika tidak dapat dipisahkan" ujar Benjamin Netanyahu. Apresiasi mendalam juga datang dari Ukraina yang baru saja dikunjungi oleh Graham sesaat sebelum wafat.

"Sangat berduka" kata Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina. Zelensky mengenang kontribusi besar sang legislator dalam mendukung kedaulatan negaranya dari invasi Rusia.

"Lindsey adalah pembela sejati kebebasan dan nilai-nilai yang membuat dunia kita lebih aman" tutur Volodymyr Zelensky. Ukraina menyatakan akan selalu mengingat jasa perjuangan politik yang diberikan Graham selama masa peperangan. "Selalu bersyukur secara khusus atas pengakuan terhadap rakyat kami dan kata-kata kagum atas keberanian para pembela Ukraina" tambah Volodymyr Zelensky.

Meskipun dikenal sebagai sekutu setia Trump di akhir kariernya, Graham pernah menjadi salah satu penentang keras Trump pada nominasi pilpres 2016.

"Nomine paling cacat dalam sejarah Partai Republik" cetus Lindsey Graham, Senator AS pada 2016. Hubungan keduanya berubah setelah pertemuan Maret 2017, hingga Graham menempatkan posisinya sebagai penasihat terpercaya di Senat. "Bintang Utara" sebut Lindsey Graham bagi sang presiden.

Dalam kebijakan luar negeri, legislator yang menjabat sejak 2002 ini dikenal sangat agresif, termasuk dukungannya pada invasi Irak 2003.

"Pergi ke neraka" peringat Lindsey Graham jika pasukan AS ditarik terlalu cepat dari Irak. Sikap keras tersebut juga ia terapkan pada konflik di Afghanistan dengan menolak penarikan penuh pasukan di bawah pemerintahan Biden.

"Meratakan jalan bagi 9/11 lainnya" tegas Lindsey Graham.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author