Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Numfor Tewaskan Lima Orang
Sebuah ledakan bom yang diduga kuat merupakan sisa peninggalan Perang Dunia II terjadi di Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/5/2026). Insiden mematikan tersebut merenggut nyawa lima orang warga dan menyebabkan tiga orang lainnya dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Pihak kepolisian setempat segera melakukan tindakan penanganan dan penyelidikan lebih lanjut terkait kepastian asal-usul proyektil tersebut. Penelusuran intensif di area sekitar titik ledakan masih terus berjalan untuk mengantisipasi adanya potensi bahaya tambahan.
"Diduga bom dari peninggalan Perang Dunia II. Ini masih kita telusuri," kata Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan kepada detikcom, Minggu (31/5/2026).
Ancaman dari persenjataan militer usang yang belum meledak ini melanda berbagai belahan dunia, seperti dilansir dari Detik iNET melalui laporan DW pada Senin (1/6/2026). Kawasan metropolitan di Jerman seperti Hamburg dan Berlin, serta negara bagian Nordrhein-Westfalen dan Brandenburg, menjadi wilayah paling terkontaminasi akibat pengeboman sekutu masa lalu.
Petugas penjinak bom di Jerman bahkan berhasil mengamankan 90 ranjau, 48.000 granat, 500 bom api, 450 bom dengan berat di atas 5 kilogram, serta sekitar 330.000 peluru artileri aktif sepanjang tahun 2024. Sementara di Inggris pada 2021, peledakan terkendali bom Jerman seberat 1.000 kilogram di Exeter sempat merusak lebih dari 250 bangunan komersial maupun tempat tinggal.
Krisis serupa juga membayangi Prancis dan Belgia dengan sisa Perang Dunia I di Verdun dan Somme, serta wilayah Polandia dan Republik Ceko. Pada tahun 2020, sebuah bom buatan Inggris seberat 5 ton yang terpendam di Swinoujscie, Polandia, berhasil dijinakkan oleh tim ahli setempat.
Di wilayah Asia Tenggara seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja, masyarakat masih menghadapi risiko fatal dari bom klaster kiriman Amerika Serikat era 1960-an hingga 1970-an. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat terdapat sekitar 80 juta bom yang belum meledak di Laos akibat 500.000 operasi serangan rahasia Amerika Serikat antara tahun 1964 dan 1973.
Kondisi serupa mengancam keselamatan warga sipil di Suriah dan Irak, meskipun kedua negara tersebut belum didukung oleh kepemilikan sistem pembersihan peledak yang mumpuni. PBB juga memperingatkan bahwa sisa amunisi yang gagal meledak di jalur Gaza, Palestina, memicu ancaman kematian yang nyata di tengah gempuran militer Israel yang terus berlangsung.
Proses mitigasi risiko ini kini terbantu oleh kemajuan teknologi penjinakan yang beralih dari metode manual tahun 1990-an ke sistem pemotong air bertekanan tinggi dari jarak aman. Kendati demikian, para ahli memperkirakan masih ada sekitar 100.000 ton bahan peledak aktif yang tertanam di tanah Jerman, di mana penanganan bom tua ini semakin berisiko tinggi akibat proses korosi selongsong dan perubahan kimia pada sumbu pemicu.