Lapas Warungkiara Berdayakan Belasan Narapidana Kelola Sapi hingga Perkebunan
Lapas Kelas II A Warungkiara di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menerapkan program pemberdayaan produktif bagi warga binaannya. Pihak lapas memfasilitasi para narapidana untuk mengelola sektor pertanian sekaligus peternakan secara mandiri.
Dilansir dari Detikcom, sebanyak 12 orang narapidana aktif dilibatkan dalam mengolah lahan produktif milik lapas. Area perkebunan dan peternakan tersebut memiliki luas mencapai 10 hektar.
Aktivitas pertanian ini memanfaatkan berbagai sudut lahan, mulai dari area gerbang masuk hingga lahan luas di bagian belakang. Bahkan, dinding terali besi lapas turut dimanfaatkan sebagai media tanam vertikal dengan sistem gantung.
Komoditas pangan yang ditanam di area tersebut sangat beragam. Warga binaan menanam sayuran seperti pakcoy, caisim, kangkung, terong bulat, terong ungu, cabai rawit, cabai hijau, seledri, daun bawang, kacang panjang, hingga timun. Selain itu, terdapat komoditas buah seperti pisang, melon, anggur, pepaya, dan nanas.
Kalapas Warungkiara Panji Pamekas mengatakan, hasil perkebunannya sebagian dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan di lapas. Sedangkan sisanya disuplai dari vendor.
"Untuk hasil yang kita dapat dari hasil yang ada di Lapas Warungkiara ini Alhamdulillah bisa mencukupi karena program pemerintah juga dalam hal ini Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan adalah 5% untuk masuk ke Bama. Jadi kita coba untuk masukkan dan kita kelola, hasilnya bisa dinikmati oleh warga binaan yang ada di Lapas Kelas II Warungkiara," kata Panji.
Sektor pemasaran hasil panen ini juga telah menjangkau jaringan pasar yang luas di luar daerah Sukabumi. Pihak lembaga pemasyarakatan bekerja sama dengan mitra pengepul untuk menyalurkan sayuran dan buah tersebut ke pasar induk.
"Nah, hasil produksi yang dihasilkan dari perkebunan ini itu dijual ke pasar dan sudah ada apa namanya pengepulnya. Jadi, hasil ini kita arahkan ke sana, dari sana nanti kita jual ke pasar. Dan dalam hal ini udah Pasar Induk Bandung, juga Pasar Induk Tangerang," jelasnya.
Melalui kerja keras dalam mengelola lahan ini, para warga binaan yang bertugas tidak bekerja dengan cuma-cuma. Mereka mendapatkan premi dari hasil penjualan yang dikumpulkan sebagai dana tabungan.
"Nah, dari hasil ini juga, mereka sudah jelas mendapatkan premi. Dan premi ini kita tabunkkan untuk nanti bekal dia ketika bebas," imbuh dia.
Selain pertanian, sektor peternakan di Lapas Warungkiara juga berkembang pesat dengan berbagai jenis hewan peliharaan. Fokus utama peternakan ini meliputi program penggemukan sapi serta budidaya unggas.
Panji menambahkan, Lapas Warungkiara memiliki sejumlah hewan ternak diantaranya sapi untuk penggemukan, dan saat ini sudah ada 350 sapi. Kemudian mereka punya 10 kambing, 400 ayam petelur, 600 ayam kampung, 40 bebek, dan mentok.