Kru TV Depok Rintis Usaha Kopi di Rumah Hadapi Layoff

Share

Ancaman efisiensi di industri penyiaran mendorong seorang pekerja media di Depok untuk merintis usaha sampingan. Seperti dilansir dari Detik Food, mantan kameramen dan reporter televisi bernama Abidzhar membagikan perjalanannya membangun kedai Krema Kopi dari rumah. Kekhawatiran akan kondisi ekonomi yang tidak menentu menjadi alasan utama Abidzhar memulai usahanya.

Langkah ini diambil setelah gelombang pengurangan karyawan melanda tempat kerjanya sejak awal 2024. "Jualan kopi itu untuk antisipasi karena banyaknya pengurangan. Kemarin dari tahun 2024 awal, di perusahaan-perusahaan terutama perusahaan televisi banyak adanya efisiensi dan pengurangan," ujar Abidzhar.

Ia mengungkapkan bahwa hampir 70% karyawan di divisinya terkena pemutusan hubungan kerja. Situasi tersebut memaksa dirinya mencari sumber penghasilan tambahan.

Abidzhar mengawali kariernya sebagai kameramen rumah produksi pada 2013 hingga 2016. Ia kemudian bergabung dengan stasiun televisi pada 2018 sebagai kameramen, sebelum akhirnya beralih peran menjadi reporter sampai akhir 2025. Tanpa latar belakang sebagai barista atau pengalaman di bidang kuliner, ia memberanikan diri membuka usaha di Cimanggis, Depok. Ide bisnis ini muncul dari kebiasaannya membeli kopi gerobakan saat berangkat dan pulang kerja.

"Gak ada basic di dunia perkopian, gak pernah menjadi barista, gak pernah belajar bikin kopi. Awal mula bisnis kopi itu terpikir karena setiap berangkat kerja selalu beli kopi di jalan," tuturnya. Pengalaman mengamati kebiasaan para pekerja lain yang hobi mengonsumsi kopi meyakinkannya bahwa pasar minuman ini sangat luas. Ia lalu belajar meracik kopi secara otodidak melalui media sosial.

Pada awal operasional, Abidzhar memanfaatkan ruang tamu rumahnya dan mengalihfungsikan lemari sepatu sebagai meja racik. Pemasaran dilakukan secara mandiri melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Pelanggan awal yang meramaikan Krema Kopi awalnya hanya tetangga sekitar.

Namun, promosi yang konsisten di media sosial berhasil menarik perhatian konsumen yang lebih luas. Ia juga mendaftarkan kedainya ke aplikasi layanan pesan-antar online. Setelah menyisihkan keuntungan selama satu tahun, Abidzhar menyulap teras rumahnya menjadi area kedai kopi.

Krema Kopi tetap menerapkan konsep pesanan dibawa pulang (to go) dan layanan daring karena keterbatasan lahan. Menu unggulannya adalah Kopi Crema yang memadukan kopi susu dengan gula aren.

Pilihan minuman lain yang ditawarkan meliputi es kopi karamel, hazelnut, pandan, butterscotch, hingga latte dengan harga mulai dari Rp 15.000. Tersedia pula opsi non-kopi seperti matcha latte, es cokelat, dan Thai tea, serta hidangan penutup burnt cheesecake dan mochi ice cream. Perjalanan menjalankan bisnis kuliner ini memberikannya pelajaran berharga mengenai dinamika penjualan yang pasang surut.

Dukungan promosi dari sejumlah publik figur seperti Annisa Bahar, Aldi Taher, dan Dewi Perssik turut membantunya mengenalkan usaha tersebut. "Yang pasti harus bener-bener telaten, manfaatkan promosi dari media sosial, kalau aku suka dapat promosi dari relasi kayak, Annisa Bahar, Aldi Taher, sampai Dewi Perssik," tutupnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author