Krisis Politik Inggris Memanas Pascamundurnya Perdana Menteri Keir Starmer

Share

Stabilitas politik Inggris kembali menghadapi ketidakpastian besar setelah Perdana Menteri Keir Starmer resmi mengumumkan rencana pengunduran dirinya di depan Kantor Perdana Menteri di London pada Senin (22/6/2026). Langkah mendadak ini dipicu oleh merosotnya dukungan internal Partai Buruh terhadap kepemimpinannya serta kemenangan telak figur penantang dalam pemilihan parlemen Westminster baru-baru ini. Tekanan politik terhadap Starmer memuncak menyusul kemenangan besar mantan Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, yang kini menjadi kandidat terkuat untuk menduduki kursi perdana menteri berikutnya.

"Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya orang yang paling tepat untuk memimpin kita menuju pemilihan umum berikutnya, saya telah mendengar jawaban partai parlemen saya atas pertanyaan itu, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada," kata Starmer di depan Downing Street.

Starmer mengonfirmasi bahwa proses nominasi untuk penggantinya akan resmi dibuka pada 9 Juli, dengan target pemimpin baru Inggris sudah mulai menjabat pada September 2026. Kepergian Starmer memperpanjang catatan kelam rotasi kepemimpinan di Inggris, yang kini tercatat telah berganti perdana menteri sebanyak enam kali dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Meskipun pasar keuangan seperti mata uang poundsterling dan obligasi pemerintah dilaporkan Reuters tetap stabil, para investor mengkhawatirkan rekam jejak Burnham yang dinilai menentang pinjaman tambahan di pasar obligasi. Inggris saat ini masih terjebak dengan biaya pinjaman tertinggi di antara negara-negara maju G7 akibat beban utang yang masif, pertumbuhan ekonomi yang lambat, serta tingginya tuntutan investasi di sektor pertahanan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author