Korban Tewas Gempa M 7,4 di Kolombia Naik Jadi 273 Orang

Share

Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia dan menyebabkan jumlah korban tewas meningkat menjadi 273 orang, dilaporkan pada Kamis, 13 Agustus 2026. Gempa yang terjadi pada Senin pagi tersebut menyebabkan kerusakan parah pada rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur penting di beberapa kota seperti Cali, Pereira, Manizales, serta Quibdo. Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menyatakan pemerintah akan melakukan segala langkah untuk bangkit dari keadaan darurat ini.

"Kami akan melakukan apa yang diperlukan," ujar Abelardo de la Espriella.

"Bangkit kembali sebagai sebuah negara dan sebagai sebuah masyarakat," tambahnya. Direktur Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana Kolombia, David Tamayo, menyampaikan bahwa pusat gempa berada dekat San Jose del Palmar, Departemen Choco, dan getarannya dirasakan hingga ibu kota Bogota serta negara tetangga.

Pemerintah membentuk satuan tugas geospasial bekerja sama dengan NASA dan badan internasional untuk memantau wilayah terdampak menggunakan teknologi satelit, dengan 166 citra beresolusi tinggi telah diproses. "Data satelit akan membantu pemerintah melakukan penilaian kerusakan secara lebih akurat sekaligus menentukan langkah penanganan darurat," kata David Tamayo.

Tim penyelamat masih terus menyisir reruntuhan untuk mencari korban yang masih hidup walau peluang semakin menipis. "Kita memasuki fase akhir," kata Walikota Cali, Alejandro Eder, menyatakan masa kritis pencarian korban yang terperangkap di bawah reruntuhan. Presiden Kolombia juga mengonfirmasi sekitar 3.500 orang luka-luka dan hampir 500 orang masih hilang, dengan ribuan lainnya mengungsi akibat rumah dan bangunan yang rusak atau runtuh.

"Jumlah korban tewas akibat gempa telah meningkat menjadi 265," ujar Abelardo de la Espriella pada Rabu sebelum data terbaru.

Metode pencarian korban melibatkan penghentian mesin secara berkala untuk mendengarkan suara dari bawah tanah dan penggunaan peralatan pemindai khusus. "Sejauh ini, tiga orang berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup dan tiga orang meninggal," kata Johana Sanchez, anggota tim evakuasi. Kisah pilu muncul di antara keluarga korban, termasuk kebutuhan tes DNA untuk mengidentifikasi balita yang meninggal karena tidak memiliki dokumen resmi.

Ricardo, seorang warga yang datang dari Miami, menyebutkan kondisi keponakannya yang selamat dan sedang menunggu operasi setelah mengalami luka parah.

"Dia masih hidup. Kami tahu dia akan membaik," ujar Ricardo. Wilayah pusat gempa di Choco sulit dijangkau karena isolasi geografis dan konflik berkepanjangan, memaksa tim bantuan menggunakan jalur sungai dan relawan lokal untuk distribusi bantuan.

"Gempa bumi ini memperparah situasi kemanusiaan yang sudah parah, dan ada kebutuhan untuk meningkatkan dukungan bagi respons kemanusiaan," kata Giovanni Rizzo, direktur Norwegian Refugee Council untuk Kolombia. Bantuan internasional terus berdatangan, termasuk tim penyelamat dari Israel, Ekuador, El Salvador, Amerika Serikat, dan rencana brigade penyelamat dari Meksiko yang menunggu sertifikasi.

Pemerintah Meksiko mengirimkan pesawat militer berisi paket makanan, perlengkapan medis, dan kebutuhan lain ke Kolombia. Bencana ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Presiden Abelardo de la Espriella yang baru dilantik, dengan status darurat ekonomi dan masa berkabung nasional telah diumumkan. Ahli geologi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada karena Kolombia berada di atas celah sesar aktif yang berpotensi menimbulkan aktivitas tektonik di masa depan.

"Mari kita ingat bahwa Kolombia penuh dengan garis sesar aktif," kata Rodrigo Leon Loya, seismolog University of the Andes.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bencana gempa Kolombia
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author