Konflik Selat Hormuz Hambat Pengiriman Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

Share

Jadwal pelayaran Eks Kapal Perang Italia, Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Aircraft Carrier (C551), menuju Indonesia berpotensi mengalami keterlambatan dalam waktu dekat. Hambatan ini dipicu oleh dinamika dan kondisi konflik yang sedang terjadi di sekitar Selat Hormuz, Timur Tengah, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (03/06/2026).

Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi bahwa situasi keamanan di jalur laut tersebut memengaruhi proses distribusi materiil pertahanan. Kendala geografis dan keamanan ini berdampak langsung pada estimasi waktu pengiriman logistik militer tersebut.

"Dengan kondisi Selat Hormuz, yang konflik juga di sana ya, jadi mungkin ada keterbatasan distribusi, waktu pengiriman dan sebagainya," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait.

Pemerintah dan parlemen Italia sebelumnya telah menyetujui hibah kapal yang berusia lebih dari 40 tahun ini pada awal tahun. Berdasarkan rencana awal, kapal pemukul tersebut diprediksi berlabuh di tanah air sebelum pergantian tahun.

"Kapal Garibaldi masih proses. Sedang berjalan dan sudah dalam proses tahapan untuk persiapan pengiriman ke Indonesia," ujar Rico.

Pihak kementerian juga memberikan indikasi bahwa sejumlah personel TNI AL telah dikirim ke Italia. Para prajurit tersebut tengah menjalani pelatihan operasional agar kendali kapal sepenuhnya berada di bawah TNI AL setelah proses hibah selesai.

"Mudah-mudahan tahun ini [sudah tiba di Indonesia]," kata Rico.

Di sisi lain, rencana pengadaan aset militer eks Italia ini mendapatkan sorotan tajam dari pihak legislatif. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengkritik kebijakan hibah ini dengan menitikberatkan pada usia operasional kapal yang dinilai sudah terlalu tua.

"Kapal Induk Guiseppe Garibaldi diprediksi akan lebih banyak menimbulkan masalah saat beroperasi di Indonesia," kata Anggota Komisi I DPR dari PDIP, TB Hasanuddin.

Ia menambahkan bahwa usia operasional normal kapal induk umumnya berkisar antara 30 hingga 40 tahun saja. Selain faktor teknis, beban keuangan negara juga menjadi poin krusial yang disorot oleh pihak parlemen.

"Selain itu, dia juga mengungkit soal biaya perawatan kapal induk tersebut yang akan menggerogoti APBN. Menurut dia, berdasarkan data Angkatan Laut Italia, biaya perawatan kapal tersebut mencapai Rp101 miar per tahun. Bahkan, biaya akan lebih mahal yaitu mencapai Rp387 miliar untuk pembongkaran," tutur TB Hasanuddin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author