Konflik Amerika Serikat dan Iran Ancam Ekosistem Teluk Persia

Share

Kerusakan ekosistem parah mengancam kawasan Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari 2026. Berdasarkan pantauan citra satelit yang dilansir dari Bloombergtechnoz, luasan noda minyak di Teluk Persia telah meningkat secara signifikan dan memicu kekhawatiran besar di kalangan ahli ekologi.

Dampak buruk dari pencemaran ini mengancam keberlangsungan mahluk hidup di sekitar kawasan perairan tersebut. Peningkatan tumpahan minyak diduga kuat bersumber dari serangan proyektil terhadap kapal tanker serta kerusakan infrastruktur energi darat yang terus terjadi.

"Jika tumpahan minyak menyebar ke sistem pesisir, hal itu akan berdampak merugikan bagi spesies burung, sumber daya perikanan, dan komunitas yang bergantung padanya," kata Liz Atwood, seorang ilmuwan senior di Plymouth Marine Laboratory.

Atwood juga menambahkan bahwa dampak kumulatif dari insiden-insiden kecil justru bisa memberikan pengaruh yang jauh lebih merusak bagi ekosistem secara keseluruhan. Menurutnya, upaya advokasi lingkungan sering kali terabaikan di tengah situasi peperangan yang sedang berkecamuk.

"Anda menyadari bahwa Anda hanyalah ikan kecil — ekologi bukanlah hal terpenting yang dibahas," kata Atwood.

Meskipun demikian, kawasan Teluk ini memegang peran krusial bagi penelitian ilmiah global karena ketahanan lingkungan lautnya terhadap perubahan suhu ekstrem. Perlindungan terhadap wilayah perairan ini dinilai sangat penting untuk masa depan bumi.

"Inilah arah yang akan dituju oleh sisa planet ini, atau sebagian darinya," kata Atwood.

Atwood menegaskan bahwa karakteristik ekosistem laut di wilayah tersebut dapat menjadi kunci penting bagi manusia dalam menghadapi krisis iklim global di masa depan.

"Ini adalah wilayah yang harus kita lindungi karena berpotensi memegang kunci tentang bagaimana kita akan menghadapi kondisi panas ekstrem, seperti gelombang panas, dalam seratus tahun ke depan," kata Atwood.

Di sisi lain, perusahaan analisis data satelit Orbital memantau bahwa volume minyak yang mencemari perairan bervariasi dari puluhan hingga ribuan barel. Salah satu insiden terbesar terdeteksi di Pulau Kharg, fasilitas ekspor utama milik Iran, pada tanggal 6 Mei dan 16 Mei 2026.

"Ketika terjadi serangan terhadap kapal tanker minyak atau infrastruktur di darat, seperti kilang minyak, kemungkinan terjadinya tumpahan minyak jauh lebih tinggi," kata Juan Peña, CEO Orbital.

Peña menjelaskan bahwa keterbatasan teknologi citra satelit membuat volume pasti dari komoditas yang bocor ke laut lepas tersebut tidak dapat diukur secara mutlak.

"Rentang perkiraan Orbital cukup luas karena tidak mungkin mengetahui jumlah pasti minyak yang tumpah di Teluk Persia hanya dengan menggunakan citra satelit," kata Peña.

Tumpahan minyak juga terdeteksi di dekat Pulau Lavan pada 9 atau 10 April 2026 dan di Selat Hormuz pada 4 Mei 2026 yang melibatkan kapal tanker Barakah milik ADNOC. Peña menekankan bahwa akumulasi material tersebut tetap menjadi ancaman serius meski skalanya belum dikategorikan sebagai bencana raksasa.

"Ini berada di perairan Iran dan kami tidak tahu apakah ada operasi pembersihan yang sedang berlangsung — tidak ada bukti bahwa hal itu pernah dilakukan," kata Peña.

Kondisi ekologi Teluk Persia saat ini memperparah riwayat pencemaran dari konflik masa lalu, termasuk Perang Teluk 1991 yang menumpahkan 11 juta barel minyak serta keberadaan 260 bangkai kapal perang yang terus membocorkan zat kimia beracun ke laut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author