Komnas Anak Menunjuk Lima Duta Anak Anti-Bullying
Komisi Nasional Perlindungan Anak menunjuk lima anak berprestasi sebagai Duta Anak Anti-bullying dalam perayaan Hari Anak Nasional 2026 di kantor Komnas Anak, Jakarta Timur, Minggu (9/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pengangkatan kelima anak tersebut didasari latar belakang mereka yang beragam, mulai dari pejuang isu pelecehan seksual anak hingga mantan korban perundungan.
Para figur muda yang dinobatkan terdiri atas penyanyi cilik Farel Prayoga dan Annisa Dalimunthe, influencer cilik Malik Arrazy dan Charissa Putri Candrakirana, serta influencer disabilitas cilik Faisal Hamudi.
Ketua Komnas Anak DKI Jakarta Cornelia Agatha menjelaskan penunjukan ini bertujuan memicu kesadaran publik terkait bahaya perundungan melalui sosok yang inspiratif.
"Hari ini di perayaan Hari Anak Nasional 2026 diadakan acara diskusi anak dengan tema 'Berteman Aman Tanpa Bullying', sekaligus penobatan Duta Anak Anti-bullying. Diharapkan anak-anak yang berprestasi di bidangnya masing-masing ini bisa menjadi inspirasi buat anak-anak lain, menebar kebaikan, serta membantu menyuarakan tentang bahaya bullying supaya bisa membangun kesadaran (awareness)," kata Ketua Komnas Anak DKI Jakarta Cornelia Agatha.
Cornelia menilai rekam jejak konsistensi para duta muda tersebut menjadi modal utama dalam memimpin gerakan perlindungan anak.
"Tentunya kami juga sudah mengenal cukup lama bahwa mereka memiliki karakter yang menurut kami mampu menginspirasi anak-anak lain. Mereka terus berprestasi sampai hari ini, dan itu menurut kami adalah modal yang kuat bagi anak-anak untuk menjadi panutan (role model) sebagai Duta Anak Anti-bullying," imbuhnya.
Salah satu duta terpilih, Charissa Putri Candrakirana atau Chacha (14), kerap memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan perlindungan anak di samping aktivitas kesehariannya.
"Sehari-hari aku yang pastinya pertama ngonten speak up dulu, terus yang kedua aku pastinya karena aku cewek, aku beres-beres rumah kayak jemuran, cucian," kata Chacha.
Informasi terkait isu sosial rutin diperoleh Chacha melalui pemantauan berita di jejaring media sosial.
"Chacha taunya dari berita-berita yang ada di sosial media. Mungkin kayak yang waktu itu apa sih, MBG, terus pelecehan seksual, terus juga banyak yang minta bantu," sambungnya.
Ibu Chacha, Eva Rosalina, menceritakan peran anaknya saat mengawal kasus pelecehan anak di Sukabumi yang sempat mengendap sebelum akhirnya viral di media sosial.
"Narasumber ngehubungin saya bilang bahwa di sini juga ada pelecehan seksual, tapi malah didamaikan, katanya didamaikan. Terus saya kulik beritanya, saya cari tahu, bukan di berita ya, itu belum belum naik berita waktu itu. Saya cari tahu, ternyata benar berita itu, oke, saya bilang ke dia, 'Dek, kita harus kerja nih, kerja sama.
Kamu membahas di sosial media, nanti Mama yang akan bikin apa sih, narasi narasinya gitu.' Akhirnya dengan cerita si narasumber ini tetangganya si si korban ini, korbannya masih anak kecil SD, jadi bapaknya ini suka memperkosa lah gitu," katanya.
Pengungkapan kasus tersebut di platform digital mendorong aparat penegak hukum menjatuhkan vonis 12 tahun penjara kepada pelaku.
"Jadi dia masuk ke sosial medianya alhamdulillah kayak di Facebook, di Instagram, di TikTok gitu, rame nih berita, tersebar dong viral. Nah, termasuk yaitu Detik ngehubungin saya untuk menanyakan gitu. Saya tidak akan membuka narasumber itu. Jadi singkat cerita, karena keviralannya dia mengungkap berita itu dan mem-publish ya foto si pelaku, alhamdulillah ketangkap dan sekarang penjara nya 12 tahun," katanya.
Keberhasilan mengawal kasus hukum hingga tuntas memberikan rasa lega bagi Chacha dalam membantu korban mendapatkan keadilan.
"Pastinya perasaan Chacha seneng banget, Chacha bisa membantu ya gak gak banyak lah, minimal satu orang, Chacha bisa membantu satu orang untuk menjerumuskan si pelaku ke penjara dan membuat si korban tuh apa namanya, lega gitu hidupnya," ungkap Chacha.
Sebagai duta baru, Chacha berkomitmen memperluas jangkauan interaksi dan pendampingan bagi anak-anak korban kejahatan.
"Pastinya Chacha bakal lebih sering meng-speak up korban-korban bullying, pelecehan seksual, dan Chacha mungkin banyak apa, berinteraksi lah dengan korban-korban tersebut gitu," kata dia.
Sementara itu, Malik Arrazy (10) membagikan pengalamannya sebagai penyintas perundungan fisik dan verbal di sekolah lamanya.
"Jadi kronologinya awalnya aku tuh sekolah di sebuah sekolah. Nah, habis itu kan, sebenarnya aku di sekolah itu udah banyak banget kena bully. Bully verbal dan yang paling parah, bully fisik," ungkap Malik.
Keputusan pindah sekolah membawa dampak positif bagi Malik hingga mampu mencetak prestasi akademis di lingkungan baru.
"Karena aku sama orang tua aku enggak bisa mentolerir lagi, jadinya orang tua aku juga udah ngomong ke pihak sekolah. Tapi karena pihak sekolahnya mungkin terlalu menyepelekan, jadinya orang tua aku memutuskan untuk pindah sekolah. Dan alhamdulillahnya, di sekolah baru ini aku memiliki teman yang baik, enggak ada pembulian, dan juga jadinya aku bisa meraih prestasi yang lebih lanjut di sekolah ini," ungkapnya.
Pencapaian sebagai juara 1 lomba cerdas cermat dokter kecil tingkat nasional menghantarkan Malik meraih beasiswa pendidikan tinggi.
"Aku sudah mendapatkan beasiswa Fakultas Kedokteran di UPI Bandung. Itu pas tahun 2025. Karena aku berhasil memenangkan juara 1.
Sebenarnya 1, 2, 3 pun sama aja dapat beasiswa. Tapi aku karena aku dapat juara 1, jadinya aku bisa mendapatkan beasiswa kedokteran juga," katanya.
Pengalaman berharga tersebut memotivasi Malik untuk terus mengejar cita-citanya di bidang kedokteran, teknik, dan seni.
"Target aku sekarang adalah aku pengin jadi dokter dan ataupun engineer. Dan juga aku juga pastinya juga pengin jadi artis. Dan semoga aja aku bisa mengejar semua impian aku," imbuhnya.