Kombes Eko Budhi Purwono Raih Penghargaan Hoegeng Awards 2026
Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Riau Kombes Eko Budhi Purwono meraih penghargaan Polisi Berdedikasi pada ajang Hoegeng Awards 2026 di Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026). Penghargaan tersebut diberikan atas perannya menggerakkan program Green Policing untuk pelestarian lingkungan, seperti dilansir dari Detikcom.
Pemberian trofi diserahkan langsung oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam acara yang dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Chairman of CT Corp Chairul Tanjung. Pengumuman ini menjadi puncak seleksi panjang yang melibatkan lima anggota Dewan Pakar dari berbagai unsur masyarakat.
Kombes Eko Budhi Purwono mengawali kiprahnya sebagai Dirbinmas Polda Riau sejak April 2025 dengan fokus merubah pola pikir masyarakat dalam menjaga hutan. Ia memaparkan bahwa pengalaman bertugas di berbagai lini menjadi dasar pembelajarannya.
"Selama ini saya belum pernah langsung tugas di bidang Binmas. Ganti-ganti, saya megang internal, lalu lintas, Kapolres. Saya belajar zaman waktu di Kapolres, ternyata banyak sekali yang dikeluhkan masyarakat, kami belajar intinya dari masyarakat," kata Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Dalam pelaksanaannya, Eko memanfaatkan jaringan Polres untuk memicu gerakan di lapangan serta menerjemahkan inovasi pelestarian lingkungan dari Kapolda Riau.
"Pak Kapolda justru yang memiliki inovasi untuk menyentuh masyarakat sesuai problem yang terjadi di masyarakat. Tipikal Riau ini daratan yang memiliki kekayaan luar biasa, baik minyak maupun yang ada di atasnya," ucap Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Ia menambahkan bahwa pergeseran keseimbangan alam Riau menjadi alasan utama dicetushkannya konsep Green Policing.
"Beliau melihat ini sayang banget kalau Riau dibiarkan begitu saja. Maka berbagai macam analisis dan kajian beliau keluarkan menjadi sebuah konsep yaitu Green Policing, menyentuh lingkungannya. Permasalahannya alam yang sudah mulai bergeser keseimbangannya," imbuh Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Eko juga menyinggung nilai sejarah Kerajaan Siak di Riau yang berkontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia.
"Bahkan Riau sendiri, kalau kita lihat sejarahnya, sampai kerajaan Siak membantu pemerintah RI, Raja Siaknya dengan 13 juta Gulden untuk membantu pemerintahan dan memerdekakan itu," ujar Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Kondisi kawasan hutan di Riau tercatat mengalami penurunan luas lahan secara signifikan dari 5 juta hektare menjadi tersisa 1,5 juta hektare.
"Melihat dari potensi lain, minyak, sawit, tetapi ada pergeseran nilai yang menggeser fungsi lahan. Ya kalau kita sebut alam Riau sudah mulai tidak seimbang, rusaklah bahasanya. Dari 5 juta hektare, tinggal 1,5 juta lagi," ucap Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Polda Riau kemudian berupaya membuka kesadaran publik, khususnya generasi muda, agar memutus rantai perusakan hutan.
"Spirit itu beliau kemukakan, kita jangan lagi merusak hutan, kalau kita memperbaiki hutan juga setengah mati, maka kita buka mindset masyarakat dari semua kalangan. Terutama pola pikir anak-anak yang masih memiliki masa depan, yang memiliki Riau ini," ujar Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Langkah nyata dilanjutkan dengan menggelar Jambore Karhutla 2025 di Kampar Kiri Hulu bersama tokoh agama Ustadz Abdul Somad, pemerintah daerah, serta aktivis lingkungan.
"Akhirnya semenjak setelah Jambore Karhutla, itu adalah milestone menggebrak pemikiran. Permasalahan yang paling menjejak di Riau adalah janganlah kita memberikan udara kotor bagi kita sendiri termasuk negara yang ada di sebelahnya," jelas Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Eko berdialog langsung dengan warga setempat dan aktivis lingkungan Dody Rasyid Amin untuk mencari solusi ketergantungan masyarakat terhadap hasil penebangan hutan.
"Keberadaan kemah di sana secara strategis mengingatkan masyarakat sana jangan main kayu lagi. Bang Dody sudah memikirkan ini. Dia memberikan sebuah kanal kegiatan sehingga pemuda tidak bergantung lagi aktivitas yang berhubungan dengan hutan," kata Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Latar belakang ketergantungan warga pada hutan erat kaitannya dengan permukiman yang sudah ada sejak era kerajaan.
"Kajiannya adalah hutan ini mulai tergerus sedikit-sedikit. Kenapa masyarakat tinggal di situ? Karena memang dari tahun 1.700 sudah ada masyarakat di sana sejak zaman kerajaan. Mereka masyarakat tua yang bergantung pada wilayah hutan," kata Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Melalui kerja sama dengan Baznas Riau dan internal kepolisian, Polda Riau memfasilitasi pelatihan satpam bagi 50 pemuda dalam program Jelajah Rakyat untuk Riau (Jalur) pada Agustus 2025.
"Kami melakukan pendekatan dengan Baznas untuk pendanaan, saya bicara dengan kawan-kawan di internal, kita minta satu pusdik untuk menyiapkan diri untuk mencoba satu model memperkenalkan sebuah profesi yang tidak harus mereka menjadi itu, setidaknya mereka mengenal pemerintahan bahwa negara sedang turun, negara menyentuh," ucap Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Pendekatan sosial tersebut disalurkan bersamaan dengan pemberian bantuan sembako kepada masyarakat desa terpencil.
"Pak Kapolda memiliki program Jalur, menyentuh, menyapa, memberikan imbauan, mengajak dan mengingatkan. Kedatangan kami ke sana untuk memberikan bantuan untuk desa di ujung sana, nggak banyak, paket kami siapkan, beras, gula, minyak dan seterusnya," ujar Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Meskipun sempat diwarnai penolakan warga yang khawatir akan penegakan hukum, pelatihan pembentukan karakter tetap terlaksana di tepi Sungai Subayang.
"Di dalam program pendidikan satpam, yang kita didik sikap mental, berpikir, kemudian menjadi pribadi yang lain, sedikitnya mereka bergeser. Kami didik persis di tepi Sungai Subayang," ucap Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan motivator lokal bagi kemajuan pemuda desa lainnya.
"Ada yang sudah bisa keluar dari desa itu sendiri, namun tidak harus keluar, tapi nanti suatu saat anak yang keluar ini menjadi motivator buat desanya, 'eh dulu saya udah dididik di sini, sama pemerintah, tidak berbiaya' nanti dia secara snow ball, nanti bisa mengajak adiknya, kawan-kawannya, yuk joint di sana," jelas Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Program Green Policing ciptaan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengintegrasikan penegakan hukum, pelestarian lingkungan, serta partisipasi aktif masyarakat.
"Niat Green Policing adalah kembali menghijaukan, tetapi kebesertaan kebersamaan masyarakat untuk menjaga itu, tidak paham kalau kita bicara saja, tapi mereka harus kita masuk melalui memperkenalkan dan kebersamaan bersama pemerintah, sehingga mereka menjadi agen betul, untuk dirinya dan masyarakat sekitarnya, 'nggak usah lagi, Bang, udah menjadi paru-paru dunia yang Indonesia punya'," ujar Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Penerapan di lapangan mengombinasikan tindakan prefektif dengan penegakan hukum pidana oleh jajaran Ditkrimsus dan Polres setempat.
"Kita menggerakkan wilayah termasuk anggota kami, termasuk pejabat yang ada di Polda, Direktorat Intel, Direktorat Kriminal Khusus. Berbicara Green Policing tidak hanya menanam dan meningkatkan kesadaran ekologis, tapi ada permasalahan tindak pidana yang sudah dilakukan oleh masyarakat, mereka atas dasar kebutuhan perut membabat hutan, atau membersihkan lahannya membakar, itu yang tidak kita berikan untuk ada terus. Kita menggunakan tangan-tangan krimsus, tangan-tangan Polres, penyidik, Polres, semua digerakkan," ucap Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Polda Riau secara konsisten mencatat data penanaman pohon harian serta jangkauan edukasi di sekolah-sekolah.
"Saya masuk di program Jalur, Green Policing, untuk memperkuat dan mengingatkan terus, dan kami mendata itu berapa banyak pohon yang sudah ditanam setiap harinya, berapa sekolah yang sudah disentuh," ujar Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.
Inisiatif pelestarian lingkungan ini berdampak signifikan pada penurunan tingkat pencemaran udara akibat kebakaran hutan di Riau pada tahun 2025.
"Tahun 2016 saya masih di Sumatera Barat, asap yang dari Riau itu nyampai di Padang, bahkan nyampai di Agam waktu saya jadi Kapolres, udara kotor. Tahun 2025 saya tidak menemukan Pekanbaru tercemar, itu aja dulu, udah cakep itu," pungkas Kombes Eko Budhi Purwono, Dirbinmas Polda Riau.