KLH Gelar The Classroom Batch 2 Tingkatkan Humas Digital

Share

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meningkatkan kapasitas komunikasi digital stafnya melalui program The Classroom Batch 2 di Wisma PGN Diklat Megamendung, Bogor, Jawa Barat, pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026. Dilansir dari Detikcom, sebanyak 34 perwakilan dari berbagai unit eselon II membidangi lingkungan hidup mengikuti pelatihan intensif tersebut.

Program ini dirancang untuk membekali para peserta dengan keterampilan modern yang mencakup produksi konten visual, strategi distribusi platform digital, serta pengelolaan media sosial resmi lembaga. Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, menegaskan bahwa aparatur institusi harus aktif memperluas wawasan komunikasi mereka di luar lingkungan pemerintahan.

"Ada istilah jangan menjadi katak dalam tempurung. Artinya, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang ada di rumah kita sendiri. Kita perlu terus belajar dan mencari tahu sejauh mana perkembangan yang terjadi di luar KLH/BPLH," ujar Romi Setiawan, Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH.

Romi menambahkan bahwa pemilihan media digital dalam kolaborasi ini bertujuan memberikan gambaran riil mengenai dinamika penyampaian informasi publik yang cepat. Menurutnya, aspek kecepatan pengemasan berita kini menjadi instrumen yang sangat vital bagi performa humas instansi negara.

"Menurut saya, teman-teman detikcom sebagai representasi media digital sangat cukup strategis untuk memberikan gambaran bahwa kecepatan dalam proses penyampaian berita, penyampaian informasi, penyampaian pengelolaan informasi publik bisa menjadi hal yang sangat strategis," kata Romi Setiawan, Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH.

Materi teknis pertama berfokus pada optimalisasi audio visual yang dipandu oleh Head of Brandstudio Detikcom, Okta Marfianto. Ia menjelaskan tahapan produksi video yang menarik audiens secara efektif, mulai dari penemuan ide materi, teknik pengambilan gambar, hingga tahap penyuntingan akhir menggunakan kecerdasan buatan.

"Mau ceritanya seru, kocak, sinematik, atau apapun itu, video bisa menjadi sarana informasi yang masih kita konsumsi, bahkan dibanding artikel. Karena video itu lebih menarik dan memikat, serta lebih memuaskan sebagian dari panca indera kita," kata Okta Marfianto, Head of Brandstudio Detikcom.

Okta menerangkan keunggulan format video yang dinilai lebih adaptif dalam menyampaikan pesan secara terstruktur dibandingkan teks biasa. Ia menilai elemen pendukung di dalam video membuat penyerapan informasi oleh masyarakat menjadi jauh lebih maksimal.

"Kalau artikel mungkin kita cuma baca dan harus mengartikan sendiri. Tapi beda dengan video karena banyak unsur atau komponen di dalamnya. Kalau bahasa makanan, video itu punya perpaduan rasa, kalau menurut saya. Perpaduan audio dan visual," ujar Okta Marfianto, Head of Brandstudio Detikcom.

Proses pembuatan video dikelompokkan dalam tiga fase utama yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Okta memaparkan pentingnya variasi sudut pandang kamera untuk menjaga durasi tontonan masyarakat pada awal pemutaran konten.

"Mau apapun liputannya, harus ada alurnya. Framing wide, medium dan close up adalah basic alur yang bisa membuat video kita bercerita. Kemudian kita bisa menggunakan angle berbeda atau unik untuk hook agar audiens bertahan lihat video kita di tiga detik awal," jelas Okta Marfianto, Head of Brandstudio Detikcom.

Fase pascaproduksi kemudian menutup materi video dengan penekanan pada penggunaan efek suara dan kecerdasan buatan untuk efisiensi kerja. Pada sesi praktik langsung, para peserta yang terbagi dalam lima kelompok diminta merancang video berdurasi satu menit.

"Kalau masih bingung atau belum punya gambaran, kita bisa memasukkan dua video referensi ke AI, lalu memberikan prompt seperti tolong transformasi video A dan video B," kata Okta Marfianto, Head of Brandstudio Detikcom.

Okta berharap melalui pelatihan ini tim humas kementerian mampu mengimplementasikan seluruh tahapan pembuatan video dengan baik. Keterampilan tersebut diharapkan mendongkrak keterikatan publik terhadap seluruh program kerja lingkungan hidup.

"Harapannya, semoga teman-teman dari KLH/BPLH bisa memaksimalkan proses produksi video bukan hanya dari proses produksi saja, tapi dari pra-produksi, produksi, dan post produksi yang diperlukan untuk engagement konten-konten mereka," kata Okta Marfianto, Head of Brandstudio Detikcom.

Sesi berikutnya diisi oleh Head of Brand Communication Detikcom, Karel Anderson, yang mengupas strategi penguatan informasi lewat infografis. Karel menyoroti pergeseran paradigma komunikasi modern yang kini berfokus pada persaingan merebut atensi publik di ruang siber.

"Saat ini komunikasi sudah berubah. Kalau dulu komunikasi adalah penyampaian informasi, namun sekarang komunikasi adalah perebutan perhatian (audiens)," kata Karel Anderson, Head of Brand Communication Detikcom.

Menurut Karel, indikator keberhasilan komunikasi humas tidak boleh berhenti pada tahap interaksi digital semata. Komunikasi yang ideal harus mampu menggerakkan masyarakat untuk melakukan tindakan nyata sesuai arahan pesan publik yang disampaikan.

"Banyak akun atau brand berhenti di tahap engagement. Padahal tujuan akhir dari komunikasi adalah action, yaitu ketika audiens melakukan tindakan sesuai pesan yang ingin kita sampaikan," kata Karel Anderson, Head of Brand Communication Detikcom.

Karel juga membedah materi evaluasi digital mengenai kesalahan umum pengelolaan media sosial instansi publik. Ia meminta para pengelola media sosial pemerintahan mengubah cara pandang penulisan agar menyentuh sisi emosional masyarakat.

"Tugas humas dan social media bukan membuat publik melihat konten kita. Tugas kita adalah membuat mereka merasa bahwa isu yang kita bawa adalah isu mereka juga," jelas Karel Anderson, Head of Brand Communication Detikcom.

Kegiatan The Classroom Batch 2 diakhiri dengan tugas pembuatan konten grafis berbasis segmentasi target dan seruan aksi yang jelas. Sebelumnya, KLH/BPLH telah melaksanakan pelatihan Batch 1 pada 17 hingga 19 Juni 2026 yang melibatkan 32 peserta dari wilayah Sumatera dan Kalimantan.

"Materi ini penting bagi humas karena banyak sekali pemerintahan atau instansi hanya men-deliver tentang agenda yang belum tentu dibutuhkan. Jadi, harapannya temen-teamen humas, terutama peserta The Classroom bisa mengerti bagaimana memasukkan rasa ke konten yang diposting di sosial media. Jadi bukan asal sekadar posting, tapi bisa ter-deliver dengan baik ke audiens," kata Karel Anderson, Head of Brand Communication Detikcom.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author