KKP Gandeng DANA Cegah Kebocoran Sampah Plastik ke Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolaborasi dengan DANA Indonesia untuk menekan kebocoran sampah, terutama berbahan plastik, agar tidak mencemari ekosistem laut. Langkah sinergis ini dilakukan melalui pemanfaatan teknologi serta kampanye pemilihan sampah dari hulu yang dikutip dari Detik Finance.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara menjelaskan bahwa mayoritas sampah yang mencemari wilayah perairan laut berasal dari daratan, khususnya limbah rumah tangga. Ia menambahkan bahwa proses penanganan sampah yang telah masuk ke laut jauh lebih sulit dan memerlukan anggaran yang besar.
Dampak buruk sampah di laut dapat mengancam keberlanjutan ekosistem kelautan, baik dalam bentuk utuh maupun yang telah terurai menjadi mikroplastik. Guna mengatasi fenomena tersebut, KKP memperkuat kerja sama pengelolaan limbah di darat bersama tiga pemerintah daerah, yaitu Pemprov DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.
"Maka strategi kita dalam mengelola sampah supaya tidak masuk ke laut itu dilakukan dengan pencegahan. Kita harus bisa mengelola sampah di daerah masing-masing. Dan sampah ini persoalan serius yang harus ditangani secara bersama," ujar Koswara di Pantai Petitenget, Badung, Bali, Sabtu (13/6/2026).
Koswara menerangkan bahwa KKP telah menginisiasi program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah) sebagai strategi penanganan nasional. Program ini berfokus pada pencegahan di empat titik pantau, yakni sungai utama yang bermuara ke laut, desa pesisir termasuk Kampung Nelayan Merah Putih, pulau kecil berpenduduk, pelabuhan, aktivitas laut, serta penanganan sampah di perairan.
Aksi lingkungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pra-acara Ocean Impact Summit (OIS) 2026, sekaligus momentum peringatan World Ocean Day dan Coral Triangle Day. Gerakan yang melibatkan komunitas lokal, universitas, masyarakat, serta karyawan DANA ini berhasil mengumpulkan sampah seberat 317,3 kilogram.Inisiatif ini turut mendukung agenda prioritas Indonesia dalam Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) terkait pengelolaan limbah pesisir.
"Kami percaya teknologi memiliki peran penting dalam mendukung gaya hidup yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Namun, setiap inovasi yang dilakukan harus berjalan beriringan dengan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan dan masa depan bersama, sehingga kita dapat bersama-sama mewujudkan target Blue Economy di Tanah Air," ujar Director of Communications DANA Indonesia Olavina Harahap.
DANA juga menggalakkan program edukasi melalui Ocean Buddy, sebuah gim interaktif di aplikasi DANA yang mendukung perlindungan hiu paus. Fitur konservasi laut yang diluncurkan sejak Oktober tahun lalu ini telah digunakan oleh lebih dari 13 juta pengguna.
Pelaksanaan Ocean Impact Summit (OIS) sendiri menjadi forum global bagi para pemimpin dan pelaku industri untuk mendorong potensi Blue Economy. Hubungan lintas sektor ini bertujuan memperkuat investasi, kebijakan, dan kemitraan demi mendukung target iklim global serta UN Decade of Ocean Science.
Komitmen keberlanjutan DANA juga diimplementasikan melalui efisiensi emisi pada setiap transaksi digital di aplikasinya. Berdasarkan Sustainability Report 2024, satu kali transaksi di aplikasi DANA hanya menghasilkan emisi sebesar 0,14 gram CO₂e, atau setara dengan 3 persen dari emisi satu email biasa yang mencapai 4 gram CO₂e.