Kisah Condet Menjelma Jadi Kampung Parfum Legendaris di Jakarta

Share

Kawasan Condet di Jakarta tidak hanya identik dengan kebudayaan Betawi yang kental. Wilayah ini juga memiliki rekam jejak sejarah yang unik lewat sematan julukan "Kampung Parfum".

Seperti dilaporkan oleh Detik Travel, penamaan tersebut berakar dari tradisi jual beli wewangian yang dirintis oleh warga keturunan Arab sejak dekade 1970-an. Pada masa awal tersebut, para pedagang mulai bermunculan di sepanjang area Condet.

Sistem perdagangan kala itu masih berlangsung secara sederhana dengan menggelar meja lapak untuk menata botol pewangi di tepi jalan, berbeda dengan kondisi saat ini yang sudah menempati bangunan toko permanen.

Langkah bisnis tersebut rupanya sukses memikat atensi para pembeli dan bertransformasi menjadi ikon wilayah setempat. Seiring berjalannya waktu, ekosistem usaha ini semakin berkembang luas.

Pelaku usaha wewangian di Condet kini tidak lagi terbatas pada kelompok etnis tertentu. Sifatnya yang terbuka bagi siapa saja membuat roda ekonomi berbasis parfum ini tumbuh subur dan mengakar kuat dalam kehidupan warga lokal.

Berdasarkan penelusuran sejarah dari salah satu pegawai toko bernama Aldi, jumlah gerai minyak wangi pada tahun 1990-an terhitung masih sangat sedikit.

"Dari dulu, tahun 97-an dulu tuh di pinggiran bukan toko-toko kayak gini, di pinggir-pinggir jalan gitu jualannya kayak (parfum) roll-on yang oles-oles. Dari situ mulai 1, 2, 3 toko jadi semua rata," kata Aldi.

Faktor lain yang mendorong pertumbuhan ini adalah keberadaan Masjid Al-Hawi yang rutin menggelar acara keagamaan seperti maulid, sehingga mendatangkan keramaian massa.

"Jadi dari waktu ke waktu apalagi ada Masjid Al-Hawi sering ada acara-acara maulid gitu, jadi orang (berfikir) pasar parfum kayaknya bagus di Condet. Jadi lama-lama orang buka toko-toko jadi lebih banyak gitu," kata dia.

Sentra belanja ini menyajikan banyak variasi produk wewangian bagi konsumen. Tersedia replika aroma atau dupe dari deretan jenama global ternama yang dipasarkan dengan harga ramah kantong.

"Banyak dupe (duplikat) yang dijual di sini, dari brand terkenal kayak Dior, Bulgari, Aigner, Channel, Hugo Boss, banyak lagi itu," ungkap Aldi.

Jangkauan Pasar Hingga Mancanegara

Patokan harga jual ditentukan berdasarkan aspek kualitas yang ditawarkan kepada konsumen. Nominalnya berkisar antara Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per mililiter, dengan ukuran botol yang paling diminati sekitar 30 hingga 50 mililiter.

Cakupan pasar sentra belanja ini juga telah meluas melampaui area ibu kota. Pembeli dari luar daerah hingga wisatawan asing kerap berkunjung ke lokasi ini untuk berburu minyak wangi.

"Ada dari Malaysia, terus kemarin ada dari Timur Tengah, Oman. Terus terakhir saya ngelayani dia dari Timur Tengah juga sih, Kuwait kalau nggak salah," kata dia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author