Kim Yo Jong Kecam Seruan ASEAN Soal Denuklirisasi Korut
Adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, mengecam keras seruan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) terkait denuklirisasi Semenanjung Korea pada Senin, 27 Juli 2026. Ia menilai pernyataan ASEAN tersebut mendistorsi esensi situasi kawasan dan tidak lagi relevan.
Kecaman tersebut dilontarkan setelah ASEAN Regional Forum (ARF) di Filipina mengeluarkan pernyataan bersama yang dibacakan Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P. Lazaro. Forum tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik Pyongyang yang dinilai melanggar sanksi Dewan Keamanan PBB.
Analis menilai pernyataan keras Kim Yo Jong ini menandakan semakin berkurangnya relevansi blok ASEAN bagi negara bersenjata nuklir tersebut. Korea Utara sendiri telah dua tahun berturut-turut tidak menghadiri ARF, setelah terakhir kali mengirimkan perwakilannya pada 2024.
Kim Yo Jong menegaskan bahwa target denuklirisasi sudah tidak bermakna karena status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir telah masuk dalam konstitusi. Ia juga menuding ASEAN mengikuti narasi Amerika Serikat.
"Berpegang pada tujuan denuklirisasi hanyalah mimpi liar yang bodoh dan sia-sia," ujar Kim Yo Jong, Kim Yo Jong, Adik Perempuan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melansir NKNews dari KCNA.
Kim menegaskan senjata nuklir merupakan alat penangkal utama untuk menjaga kedaulatan serta keamanan nasional negaranya. Oleh karena itu, Pyongyang dipastikan akan terus memperkuat kemampuan nuklirnya tanpa penundaan.
Pernyataan Kim muncul saat Korea Utara memperingati 73 tahun kemenangan Perlang Korea 1950-1953 yang juga dihadiri Kim Jong Un. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membela kepemilikan nuklir Pyongyang, sementara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang tetap mendesak denuklirisasi.