Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Tolak Suap Miliaran Rupiah

Share

Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto mengaku mendapat intimidasi digital hingga tawaran suap bernilai miliaran rupiah setelah gencar mengkritik program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah pada Juni 2026.

Uang kompensasi tersebut ditawarkan oleh pihak yang mengatasnamakan lembaga berbintang, namun Tiyo memilih menolak demi menjaga integritas gerakan mahasiswa.

Gelombang kritik Tiyo mencuat setelah ia menyoroti kasus bunuh diri siswa SD di NTT akibat tidak mampu membeli alat tulis, mengirim surat ke UNICEF, serta memplesetkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Satuan Penjilat Prabowo Gibran.

Aksi Tiyo memicu respons keras dari Istana dan memunculkan pro-kontra terkait konsistensi idealisme aktivis mahasiswa di tengah maraknya mantan ketua BEM yang menyeberang menjadi politisi partai.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengkritik keras pernyataan Tiyo yang memplesetkan nama institusi pelayanan gizi tersebut karena dinilai merendahkan jutaan pekerja dan penerima manfaat.

"Ada orang yang bilang SPPG itu adalah satuan penjilat Prabowo-Gibran. Nah, ini kan sok paten juga, nalarnya di diskon juga ini," kata Hasan Nasbi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.

Hasan menegaskan bahwa SPPG merupakan ekosistem pemenuhan gizi untuk puluhan juta anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui yang juga menyerap 1,5 juta tenaga kerja dapur.

"Kalau dia bilang SPPG itu satuan penjilat Prabowo-Gibran, berarti dia sedang mengata-ngatai 1,5 juta warga Indonesia yang bekerja di dapur SPPG sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Dia juga sama sedang mengata-ngatai 62 juta penerima manfaat anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui anak-anak balita. 62 juta penerima manfaat ini sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Hati-hati kalau bicara," ujar Hasan Nasbi.

Sebelumnya, Tiyo juga mengomentari langkah Presiden Prabowo Subianto yang memberikan ultimatum keras kepada mitra program MBG yang melakukan kecurangan pascapenangkapan mantan Kepala BGN RI oleh Kejaksaan Agung.

"Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator. Seruan kebijakan. Dan saya rasa ada satu hal yang mungkin belum kita percakapkan malam ini, bahwa beberapa hari terakhir," kata Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM dalam program Bola Liar KompasTV pada Jumat (5/6/2026).

Mahasiswa Filsafat angkatan 2021 yang merupakan lulusan pendidikan kesetaraan Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah Kudus ini menambahkan bahwa isu penangkapan korupsi tersebut mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi.

"Sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG, tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi. Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika ditangkap," ujar Tiyo Ardianto.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author