Ketegangan Israel dan Turki Meningkat Usai Serangan Pangkalan Udara Suriah
Eskalasi militer antara Israel dan Turki meningkat setelah jet tempur Israel membom Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Suriah. Pemerintah Amerika Serikat kini berupaya membangun saluran diplomasi untuk mencegah bentrokan terbuka antar kedua negara.
Suriah dan Turki memilih menahan diri dari balasan militer guna menghindari perang terbuka. Langkah tersebut diambil usai serangan udara Israel menghancurkan landasan pacu dan fasilitas penampungan pangkalan pada Selasa lalu tanpa menimbulkan korban jiwa.
Aksi militer Tel Aviv dipicu oleh kekhawatiran atas potensi penempatan pasukan dan pengiriman senjata Turki ke Suriah. Sebelum pengeboman terjadi, Kepala Mossad Roman Gofman sempat menghubungi Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani pada 14 Agustus untuk mempertanyakan manuver militer Ankara.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan ancaman keamanan di perbatasan mereka.
"Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami," kata Katz.
Katz juga menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang menyeret negaranya dalam petualangan berbahaya di Suriah. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim telah memberikan peringatan keras kepada Damaskus dan Ankara.
"Pesan kami sangat jelas, jangan lakukan itu. Saya rasa mereka tidak fully memahami pesan tersebut," ujar Netanyahu.
Netanyahu menambahkan bahwa tindakan tegas diambil agar pihak lawan memahami peringatan Israel secara lebih jelas.
"Kami menjelaskannya kepada Turki – Jangan. Rupanya mereka tidak mendengar pesan itu, jadi kami memastikan mereka memahaminya dengan lebih baik," kata Netanyahu.
Kementerian Pertahanan Turki membantah tuduhan pengerahan pasukan dan menegaskan tidak ada delegasi militer yang mengunjungi lokasi sebelum atau sesudah serangan. Pemerintah Turki menilai serangan udara Israel sebagai tindakan yang tidak bisa diterima dan berpotensi merusak stabilitas kawasan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Turki menyatakan komitmennya untuk membantu menjaga kedaulatan Suriah.
"Dalam hal ini, upaya dan kontribusi kami untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah akan terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan membantu menciptakan kondisi yang aman dan stabil," ujar juru bicara tersebut.
Kantor Kepresidenan Turki turut membantah tuduhan pengerahan militer dan menyebut klaim Israel sebagai dalih semata.
"Terus bekerja sama dengan Pemerintah Suriah atas dasar yang sah untuk pembentukan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran," ungkap Kantor Kepresidenan Turki.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menegaskan tidak ada rencana pembangunan pangkalan permanen militer Turki di wilayahnya. Kunjungan perwira Turki sebelumnya disebut hanya bagian dari kerja sama pelatihan dan pertukaran keahlian.
"Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan militer Turki ataupun membangun markas militer Turki secara permanen bahkan sampai menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut," ujar Al-Shaibani.
Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengritik serangan udara Israel yang dinilai tidak perlu dan memicu eskalasi kawasan.
"Eskalasi yang tidak perlu yang tidak memajukan stabilitas regional," kata Barrack.
Barrack mengonfirmasi bahwa Washington sedang memfasilitasi komunikasi diplomatik antara Turki, Israel, dan Suriah guna meredakan tensi militer.