Ketegangan AS dan Iran Meningkat di Selat Hormuz serta Laut Oman
Militer Amerika Serikat menyerang instalasi radar pengintaian pantai milik Iran di kota Goruk, Pulau Qeshm pada Jumat (5/6) waktu setempat, setelah sebelumnya menembak jatuh empat drone serang satu arah yang menuju ke Selat Hormuz.
Aksi militer tersebut memicu peningkatan ketegangan terbaru yang mengancam gencatan senjata rapuh dalam perang Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui pengumuman Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Di sisi lain, peningkatan konflik ini terjadi di tengah klaim Angkatan Laut Iran yang menyatakan telah melepaskan tembakan peringatan menggunakan rudal dan drone ke arah sejumlah kapal perusak militer AS di Laut Oman pada Jumat (5/6).
Pihak Teheran menyebut tindakan itu diambil sebagai respons atas gangguan dari AS serta penyitaan kapal tanker komersial dan minyak milik Iran, yang kemudian memaksa kapal-kapal Washington mundur ke arah Samudra Hindia.
Menanggapi situasi di kawasan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan mengenai penurunan kapasitas militer Teheran setelah gelombang serangan dari AS dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari.
"Bukan tugas Anda untuk mencampuri urusan negara kami," kata Aoun dengan nada keras, masih merujuk pada Iran.
Pernyataan keras tersebut disampaikan di Istana Kepresidenan Lebanon menyusul keterlibatan negara tersebut ke dalam konflik Timur Tengah akibat serangan kelompok Hizbullah yang didukung Iran terhadap Israel pada awal Maret lalu.
Krisis energi global yang dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini juga berdampak pada negara lain, termasuk Brunei Darussalam yang langsung melakukan perombakan kabinet besar-besaran.