AS dan Iran Berbeda Pendapat Soal Penandatanganan Kesepakatan Damai

Share

Rencana pembukaan kembali Selat Hormuz melalui kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran memicu perbedaan pendapat terkait waktu penandatanganan pada Minggu (14/6/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, Presiden AS Donald Trump mengklaim draf perdamaian siap disepakati, namun pihak Iran langsung membantah karena adanya perbedaan poin-poin krusial terkait pengelolaan jalur air dan ganti rugi perang.

Teheran masih bersikeras menuntut pembayaran atas kerusakan akibat perang serta pengembalian aset mereka yang dibekukan oleh AS sejak revolusi 1979. Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa Iran tidak akan mendapatkan uang tunai dalam kesepakatan ini, melainkan pemulihan akses ekonomi global jika seluruh syarat dipenuhi.

Proses mediasi yang difasilitasi oleh Pakistan kini tengah mempersiapkan mekanisme penandatanganan elektronik sebelum melanjutkan ke pembicaraan teknis. Blokade Selat Hormuz yang telah berlangsung selama empat bulan ini telah menewaskan ribuan orang di kawasan Timur Tengah, khususnya di wilayah Iran dan Lebanon.

"Kesepakatan dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA," kata Trump dalam sebuah unggahan media sosial pada Sabtu, sambil mengklaim bahwa Iran “tidak lagi menginginkan senjata nuklir.”

Pemerintah AS menargetkan pembersihan ranjau di selat tersebut dalam waktu satu bulan setelah kesepakatan tercapai dengan bantuan koalisi Inggris dan Prancis. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi langkah diplomatik tersebut akan diikuti oleh negosiasi lanjutan mengenai program nuklir.

"diikuti oleh pembicaraan tingkat teknis minggu depan," kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Pembicaraan lanjutan itu dijadwalkan berlangsung selama 60 hari guna memastikan pengawasan ketat terhadap material nuklir Iran. Kendati demikian, ketidakpastian masih membayangi karena Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum memberikan persetujuan akhir terhadap syarat-syarat yang diajukan.

"Kesepakatan apa pun yang dapat menyelesaikan isu-isu paling kritis dan berbasis kondisi akan menempatkan AS dan Iran tepat pada posisi mereka selama ini: gencatan senjata yang rapuh dan secara rutin diuji dan rentan terhadap kekerasan," kata Becca Wasser, pemimpin pertahanan untuk Bloomberg Economics.

Situasi geopolitik ini juga mendapat penolakan dari internal kedua negara, baik dari kelompok garis keras di Iran maupun politisi Partai Republik di AS. Selain itu, Israel selaku sekutu AS tidak dilibatkan dalam negosiasi dan lebih memilih opsi serangan militer lanjutan untuk melemahkan kekuatan Teheran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author