Kepala BGN Tegaskan Perbaikan Usai Kasus Keracunan di SMAN 1 Berastagi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan akan melakukan perbaikan tata kelola setelah insiden keracunan makanan di SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Insiden ini menyebabkan trauma mendalam bagi siswa dan keluarga yang terdampak, dilansir dari Detik Health.
Kasus keracunan ini dipicu oleh kelalaian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) dalam pengolahan dan penyimpanan bahan makanan, terutama olahan ikan yang tidak disimpan dalam freezer sebagaimana mestinya sehingga kualitas menurun.
Sudaryono menjelaskan, "Saya tahu, saya paham yang trauma bukan hanya siswa-siswinya, tapi juga ada keluarga traumatis. Saya memahami itu dan kita akan terus perbaiki. Kejadian ini tidak boleh terulang kembali." Saat ini, BGN fokus pada penanganan medis dan pemulihan para siswa yang terdampak serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan untuk penanganan pasca-pengobatan.
Menindaklanjuti kasus ini, dapur sekolah ditutup untuk investigasi dan kepala SPPG dicopot. "Dapurnya kami tutup untuk diinvestigasi. Kemudian kepala SPPG-nya kami copot. Karena ini kelihatan fatal, kami mempertimbangkan untuk melakukan pemecatan status PPPK-nya," ujar Sudaryono.
Selain sanksi internal, BGN juga melibatkan kepolisian untuk mengusut kemungkinan adanya unsur pidana dalam kasus ini dan menjamin transparansi selama proses hukum berlangsung.
Sudaryono juga mengingatkan para penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar mematuhi prosedur operasional standar (SOP), terutama dalam mengonsumsi makanan langsung di sekolah tanpa dibawa pulang, untuk mencegah risiko pertumbuhan bakteri akibat makanan yang ditunda konsumsi terlalu lama.
"Sisa atau barangkali ada yang ini dibawa pulang, dibagi ke beberapa anggota keluarga, dimakan jam 10 malam di hari itu. Itu kan berarti sudah lewat lama. Mungkin dilihatnya masih tampak baik, tapi ternyata bakterinya sudah berkembang," ujarnya mengimbau.