Kementerian Transmigrasi Revitalisasi Pembangunan Kawasan Transmigrasi

Share

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengakui program transmigrasi yang berjalan puluhan tahun belum menyelesaikan permasalahan terutama di sektor infrastruktur. Pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Transmigrasi berencana revitalisasi pembangunan kawasan transmigrasi melalui kolaborasi dengan kementerian terkait, kata Viva pada Kamis (30/7/2026).

Hal tersebut disampaikan Viva usai mengikuti Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Dalam pembekalan terakhir, para menteri dan wakil menteri hadir untuk menyampaikan materi pentingnya sinergi agar pembangunan di kawasan transmigrasi lebih cepat, efektif, dan efisien.

Viva memberi contoh, jika ada sekolah rusak, Kementrans bisa bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Jika petani membutuhkan alat, pupuk, atau bibit, koordinasi dilakukan dengan Kementerian Pertanian. Untuk jalan rusak, Kementrans akan bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

"Dengan sinergi maka berbagai kendala di kawasan transmigrasi bisa dituntaskan," ujar Viva. Ia juga menyampaikan aspirasi peserta TEP dari ITS yang menyuarakan berbagai kendala pembangunan akan diterima dan segera dituntaskan.

Menurut Viva, bukan hanya pembangunan fisik yang menjadi tantangan, tetapi juga penting menumbuhkan inovasi dan kreasi di kawasan transmigrasi. Potensi sumber daya alam yang melimpah belum optimal karena tata kelola yang kurang efektif.

"Pentingnya menumbuhkan inovasi dan kreasi di sana," ujar Viva. Ia menambahkan perlunya tata kelola mulai dari penanaman, pemeliharaan, produksi, pascapanen, hingga offtaker agar hasil panen durian, kopi, kakao, coklat, sawit, dan sumber daya alam lainnya dapat meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.

Untuk pemberdayaan kawasan transmigrasi, Kementrans melibatkan 10 perguruan tinggi unggulan seperti UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin dalam TEP 2026.

TEP 2026 merupakan lanjutan dari TEP 2025 dengan anggota sebanyak 1.476 orang yang terdiri dari guru besar, profesor, alumni program doktoral, magister, dan sarjana. "Misi TEP 2026 adalah menindaklanjuti hasil riset TEP 2025 dan melakukan pekerjaan teknis serta praksis terhadap temuan rekomendasi riset tahun lalu," tambahnya.

Tim ini tersebar di 53 kawasan transmigrasi di berbagai daerah seperti Salor, Papua Selatan; Selaut, Aceh; Lunang Selaut dan Muara Takung-Kamang Baru, Sumatera Barat; Batu Betumpang, Bangka Belitung; Barelang, Kota Batam Kepulauan Riau; dan Papua. Mereka didorong untuk menciptakan inovasi, kreasi, dan sistem baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan dan pemberdayaan kawasan transmigrasi.

Diharapkan pasca TEP 2026 akan terjadi peningkatan aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan bidang kehidupan lainnya. "Pertumbuhan harus memberikan nilai tambah pada pendapatan dan kemakmuran masyarakat serta meningkatkan mutu sumber daya manusia, menurunkan kemiskinan dan stunting," pungkas Viva, dilansir dari Detikcom.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author