Kementerian PU Percepat Pemulihan Permanen Jalan dan Jembatan di Aceh
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana di Provinsi Aceh. Langkah ini dilakukan lewat penanganan permanen pada puluhan ruas jalan dan jembatan yang menjadi urat nadi konektivitas warga.
Upaya tersebut bertujuan memastikan akses transportasi kembali aman sekaligus lancar. Dengan demikian, mobilitas masyarakat serta roda perekonomian di berbagai wilayah Aceh dapat kembali normal, seperti dilansir dari Detik Finance.
Melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Kementerian PU menangani secara permanen 20 lokasi di koridor Lintas Barat dan Lintas Timur Aceh. Proyek ini terdiri atas 15 ruas jalan dan lima jembatan.
Perbaikan di sejumlah ruas dikerjakan pada beberapa titik kerusakan sekaligus menyesuaikan kondisi lapangan. Selain itu, penanganan permanen menyasar 16 lokasi di Lintas Tengah Aceh.
Cakupan pengerjaan meliputi rehabilitasi serta rekonstruksi jalan maupun jembatan. Petugas di lapangan juga melakukan penanganan lereng, perlindungan tebing sungai, pekerjaan struktur, hingga sejumlah pekerjaan pendukung.
Menteri PU Dody Hanggodo memastikan proses pemulihan infrastruktur pascabencana ini terus menunjukkan progres positif. Berbagai langkah taktis menuju pemulihan permanen terus dioptimalkan di lapangan.
"Jalan nasional sudah kembali fungsional 100% dan penanganan permanen terhadap jembatan-jembatan daerah yang masih bersifat temporer akan dipercepat agar konektivitas pulih sepenuhnya. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dan seluruh pihak terkait agar pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat dan terintegrasi," kata Menteri Dody dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Pada koridor Lintas Timur, penanganan dilakukan di 17 lokasi yang mencakup 13 ruas jalan nasional dan empat jembatan. Beberapa di antaranya meliputi ruas Beureunuen – Bts. Pidie Jaya/Pidie dan Bts. Pidie Jaya/Pidie – Meureudu.
Selanjutnya adalah ruas Meureudu – Bts. Pidie Jaya/Bireuen, Bts. Pidie Jaya/Bireuen – Kota Bireuen, Peureulak – Bts.
Kota Langsa/Aceh Timur, dan Bts. Kota Langsa/Aceh Timur – Kota Langsa.
Penanganan juga berjalan di ruas Bts. Kota Langsa/Aceh Tamiang – Kota Kuala Simpang, Jln. Ir.
Juanda (Kuala Simpang), Jln. Cut Nyak Dhien (Kuala Simpang), Jln. Iskandar Muda (Kuala Simpang), Jln.
Mayjen Sutoyo (Kuala Simpang), Jln. Ade Irma Suryani (Kuala Simpang), serta Kota Kuala Simpang – Bts. Provinsi Sumut.
Empat infrastruktur jembatan di Lintas Timur yang diperbaiki adalah Jembatan Krueng Meureudu, Jembatan Krueng Tingkeum, Jembatan Pante Lhong, dan Jembatan Ulee Langa.
Sementara itu, pengerjaan di koridor Lintas Barat difokuskan pada tiga lokasi utama. Titik tersebut adalah Ruas Jalan Genting Gerbang – Celala – Bts. Aceh Tengah/Nagan Raya, Bts. Aceh Tengah/Nagan Raya – Lhok Seumot – Jeuram, dan Jembatan Krueng Beutong.
Untuk Lintas Tengah Aceh, penanganan mencakup 16 lokasi yang tersebar di wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga Bener Meriah. Selain memperbaiki badan jalan dan jembatan, petugas memitigasi risiko bencana susulan.
Salah satu titik yang memperlihatkan perkembangan positif di Lintas Tengah adalah Jembatan Lawe Mengkudu I. Hingga 28 Juni 2026, progres fisik pengerjaan di lokasi tersebut sudah menyentuh angka 83,72 persen.
Infrastruktur tersebut ditargetkan rampung sepenuhnya pada 31 Juli 2026. Penanganan permanen berjalan dengan membongkar jembatan lama yang rusak akibat bencana.
Struktur tersebut diganti menggunakan jembatan baru yang konstruksinya jauh lebih aman. Fasilitas ini dirancang mampu mendukung kelancaran mobilitas transportasi masyarakat dalam jangka panjang.