Kementan Kucurkan Bantuan Pertanian Rp1,33 Triliun di Papua Selatan

Share

Kementerian Pertanian menggelontorkan anggaran bantuan sektor pertanian senilai Rp1,33 triliun untuk Provinsi Papua Selatan pada Sabtu (4/7/2026). Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat kawasan tersebut menjadi lumbung pangan di wilayah Indonesia timur melalui program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan Optimalisasi Lahan (Oplah).

Alokasi anggaran besar tersebut diarahkan untuk membiayai pembangunan lahan, irigasi pertanian, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih, pupuk, serta pestisida. Dilansir dari Detik Finance, program ini juga mencakup pengembangan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hingga peternakan guna mendongkrak produktivitas dan kesejahteraan petani lokal.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyerahkan langsung bantuan tersebut saat menghadiri Gerakan Tanam di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Sektor pertanian di wilayah ini ditargetkan mengalami akselerasi modernisasi demi meningkatkan indeks pertanaman serta memperluas area tanam.

"Total bantuan untuk Papua Selatan tahun 2026 mencapai Rp 1,33 triliun. Semua bantuan ini untuk masyarakat, untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani," kata Amran dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Amran menjelaskan bahwa pembangunan sektor pertanian di Papua Selatan difokuskan pada transformasi menuju sistem modern yang efisien dan berdaya saing. Ia mengapresiasi keterlibatan generasi muda Papua yang kini mampu mengoperasikan teknologi mekanisasi pertanian di Merauke.

"Kami bangga karena operatornya adalah putra daerah dari Semangga dan Kurik. Inilah yang kita inginkan, transfer teknologi kepada putra-putri terbaik Papua. Teknologi yang digunakan di Merauke saat ini sejajar dengan yang digunakan di Jepang, Amerika, dan negara maju lainnya," jelasnya.

Penerapan teknologi modern tersebut dilaporkan telah berhasil mendongkrak frekuensi masa tanam di Merauke. Angka indeks pertanaman di wilayah ini tercatat melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 kali tanam per tahun.

"Di Merauke IP sudah mencapai 2. Artinya, petani bisa menanam dua kali dalam setahun. Produktivitas juga meningkat. Dulu hasil panen sekitar tiga ton per hektare, sekarang sudah ada yang mencapai empat, lima, enam bahkan tujuh ton per hektare," jelasnya.

Lonjakan produktivitas lahan pertanian ini berdampak nyata terhadap kondisi finansial para pekerja lapangan. Menurut data pemerintah daerah, pendapatan petani di beberapa titik wilayah mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan.

"Ini luar biasa untuk masyarakat kita. Semua peralatan yang diberikan pemerintah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua," tegasnya.

Pemerintah pusat menekankan bahwa keberhasilan agenda modernisasi ini tidak lepas dari sinergi kuat lintas sektor. Pihak kementerian mengapresiasi andil dari pemerintah daerah, TNI, Polri, penyuluh, hingga kelompok tani di lapangan.

"Kita ini kolaborasi, kita saling membesarkan. Tidak ada orang berhasil karena saling menjatuhkan. Orang berhasil adalah mereka yang mau bergandengan tangan dan tumbuh bersama," imbuhnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua Selatan memberikan apresiasi tinggi terhadap dukungan penuh dari pemerintah pusat. Berdasarkan data daerah, Kabupaten Merauke memegang porsi terbesar proyek pangan di Papua, yakni mencakup 48 ribu hektare dari total 84 ribu hektare program Cetak Sawah Rakyat, serta 53 ribu hektare dari total 54 ribu hektare program Optimalisasi Lahan.

Pemerintah Kabupaten Merauke mencatat seluruh program stimulus ini berhasil meningkatkan luas tanam dan volume produksi pangan secara masif. Berbekal potensi lahan pertanian yang mencapai 1,2 juta hektare, Merauke diproyeksikan menjadi pusat produksi pangan nasional yang menggerakkan perekonomian Papua Selatan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author