Kemenpar Siapkan Langkah Revalidasi UNESCO di Raja Ampat

Share

Kementerian Pariwisata menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung proses revalidasi UNESCO di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Fokus utama dari upaya ini adalah penataan destinasi wisata agar tetap berkelanjutan, seperti dilansir dari Detik Travel.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan beberapa waktu lalu ia telah meninjau langsung ke Raja Ampat untuk melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah dan pelaku industri setempat.

"Kita di sana melihat apa saja yang perlu diperbaiki, misalnya harus ada penghitungan daya dukung dari setiap destinasi untuk diving gitu, itu harus dihitung dan juga berapa jumlah kapal yang bisa untuk datang ke sana. Sehingga itu harus didata dulu oleh pemerintah daerah dan juga asosiasi," ujar Menpar usai membuka Rakornas Pariwisata 2024 di Kantor Kementerian Pariwisata, Rabu (20/5/2026).

Pemasangan pelampung tambat atau mooring bouy menjadi langkah selanjutnya yang akan dilakukan di kawasan Raja Ampat. Fasilitas ini berfungsi menjaga keberlangsungan terumbu karang agar tidak rusak oleh jangkar kapal yang berlayar di kawasan tersebut.

"Total jumlahnya ada 136 mooring buoys yang akan disebar di Raja Ampat sehingga itu untuk menjaga sustainability dari terumbu karang di sana. Karena sekarang itu banyak sekali kapal berlayar di sana untuk diving dan berwisata tapi jangkarnya di mana-mana begitu, jadi kalau ada mooring buoys akan menambatkan kapalnya di situ sehingga tidak merusak terumbu karang," jelas Menpar.

Penerapan pariwisata berkelanjutan juga disoroti Menpar pada sektor akomodasi, termasuk hotel dan homestay di Raja Ampat. Kesinambungan ekosistem pariwisata ini dinilai harus dilakukan secara menyeluruh pada setiap lini.

Pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam menciptakan kesinambungan tersebut agar pariwisata berkelanjutan dapat terwujud secara utuh.

"Ini perlu dikembangkan untuk pulau-pulau yang lain. Nah jadi kita bekerja sama nanti memformulasikan bagaimana dan juga di sana isu sampah juga sudah mulai ada, harus juga untuk sampah laut kita harus tegas bahwa kapal tidak boleh membuang sampah di tengah laut dan juga daerah-daerah sekitarnya," ujarnya.

Menurut Widiyanti, penanganan sampah di Raja Ampat memerlukan perhatian khusus karena arus sungai masih sering membawa sampah masuk ke area laut.

"Mungkin kita harus pasang jaring di muara sungai agar sampah-sampah dari darat itu tidak masuk ke laut. Nah itu butuh effort yang luar biasa dan pasti biaya juga operasionalnya ya, jadi ini perlu dirumuskan bersama," katanya.

"Ini karena sampah kan adalah isu nasional sekarang ya. Nah jadi kita mendata dan mudah-mudahan ke depan kita bisa membangun pariwisata di Raja Ampat dan destinasi lain secara berkelanjutan gitu," lengkap Menpar.

Tim dari UNESCO dijadwalkan akan mengunjungi Raja Ampat pada Agustus mendatang. Kedatangan tersebut bertujuan untuk menilai ulang status kawasan tersebut sebagai UNESCO Global Geopark.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author