Kemenpar Integrasikan AI MaiA untuk Permudah Perjalanan Wisatawan

Share

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini mengubah lanskap sektor pariwisata secara global. Kehadiran inovasi ini mempermudah para pelancong dalam menyusun perencanaan perjalanan berwisata secara praktis.

Melalui pemanfaatan AI, para wisatawan tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mencari informasi dalam jumlah banyak. Sistem pintar ini mampu menyajikan segala data yang diperlukan hanya dengan menggunakan kata kunci atau prompt yang tepat, seperti dikutip dari Detik Travel.

"Trennya apa sekarang? Orang yang mengklik itu sukanya apa? Destinasi-destinasi mana yang disukai oleh mereka misalnya. Makanya mereka akan mencari dengan bantuan AI," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam temu media di Jakarta.

Made menjelaskan bahwa wisatawan masa kini cenderung lebih menyukai pola perjalanan yang fleksibel. Meski demikian, mereka kerap menghadapi kesulitan saat menentukan destinasi atau jenis kegiatan yang ingin dicoba selama liburan.

Dalam ekosistem pariwisata, teknologi AI memiliki kemampuan untuk merekam dan mengingat segala bentuk perilaku wisatawan. Data tersebut diperoleh secara otomatis dari jenis informasi yang sering dicari oleh pengguna.

"Jadi misalnya rekan-rekan minum di hotel atau resort, dulu ada butler sekarang dikasih aplikasi. Mau makan apa, dia sudah tahu karena ada track record kita di hotel A, B, C. Akhirnya kalau pagi, dia (AI) sudah tahu saya suka kopi hitam, dia tidak akan merekomendasikan untuk menyajikan cappuccino," kata dia.

Merespons perubahan perilaku konsumen tersebut, Kementerian Pariwisata meluncurkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA). Integrasi teknologi adaptif ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional demi memenuhi kebutuhan wisatawan.

Platform digital tersebut dapat diakses secara langsung melalui laman resmi indonesia.travel. Langkah ini menjadi wajah baru transformasi digital pariwisata sekaligus menyukseskan program Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi.

"Dengan dukungan teknologi AI, indonesia.travel dapat bertransformasi menjadi website one-stop travel solution to Indonesia yang berperan sebagai asisten perjalanan cerdas, personal,responsif dan praktis," kata Made.

Sistem MaiA akan mendampingi para pelancong di setiap tahapan perjalanan mereka. Fase pendampingan ini dimulai dari membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman (experiencing), hingga membagikan momen liburan (sharing).

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menilai masyarakat saat ini beraktivitas dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma. Seluruh jejak digital diproses untuk membentuk profil pengguna.

"Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka," kata Apni.

Kondisi digital tersebut membuat para wisatawan tidak lagi sepenuhnya memilih destinasi secara mandiri. Pilihan mereka kini banyak diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai oleh berbagai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.

"Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital," lanjut Apni

Tantangan utama sektor pariwisata saat ini bergeser pada upaya membangun kepercayaan publik di tengah banjir informasi. Kecerdasan buatan memang mampu memproses data dengan kecepatan tinggi, tetapi kendali utama tetap berada di tangan manusia.

"Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya," tegas Apni.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author