Kemendiktisaintek Usut Dugaan Pemalsuan Riset Empat Alumni UNY

Share

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membentuk tim investigasi untuk mengusut dugaan pemalsuan riset oleh empat warga negara Indonesia pada Rabu (10/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Tim investigasi tersebut dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemendiktisaintek, Nur Syarifah. Kasus ini mencuat setelah adanya indikasi fabrikasi data dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.

"Pemerintah memandang serius setiap bentuk pelanggaran integritas akademik dan integritas penelitian. Untuk itu, Kemdiktisaintek telah membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Inspektur Jenderal Kemdiktisaintek, Nur Syarifah," bunyi keterangan pers yang disampaikan Mendikti Brian Yuliarto, Rabu (10/6/2026).

Mendikti Brian Yuliarto menuturkan bahwa dugaan pelanggaran ini berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia, sehingga koordinasi dengan pihak terkait langsung diperkuat.

"Integritas akademik merupakan fondasi utama kemajuan ilmu pengetahuan. Kepercayaan publik terhadap hasil riset dibangun melalui kejujuran, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap etika ilmiah. Karena itu, setiap dugaan pelanggaran yang berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia harus ditindaklanjuti secara serius dan objektif," kata Brian dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Kemendiktisaintek dan BRIN sepakat memperkuat koordinasi, termasuk menjalin komunikasi dengan aparat penegak hukum untuk mencari delik hukum serta mengkaji sanksi administratif maupun pidana.

"Kedua institusi juga tengah mengkaji berbagai langkah administratif, dan pidana yang dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan, termasuk pembatasan akses terhadap program, fasilitas, maupun pendanaan yang bersumber dari pemerintah," bunyi keterangannya.

Hasil pendalaman sementara menemukan adanya dugaan penggunaan nama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tanpa izin, penggunaan departemen fiktif, serta pencatutan identitas peneliti lain.

"Hasil pendalaman sementara juga menemukan adanya dugaan penggunaan nama UNY tanpa izin dalam berbagai aktivitas ilmiah internasional," bunyi keterangan Brian.

Mendikti Brian Yuliarto menjelaskan bahwa keempat terduga pelaku merupakan lulusan S1 UNY yang bukan merupakan dosen perguruan tinggi, sehingga kementerian tidak memiliki payung hukum langsung untuk menindak mereka secara administratif.

"Terkait dengan tadi permasalahan kasus beberapa orang yang melakukan pembohongan riset, ini kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY. Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1-nya adalah UNY. S2-nya berbeda-beda," kata Brian dalam rapat.

Sementara itu, Plt Inspektur Jenderal Kemendiktisaintek Nur Syarifah menegaskan bahwa kasus ini menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola riset nasional dan meningkatkan sistem pengawasan afiliasi peneliti.

"Di sisi lain, penelusuran terhadap publikasi yang terindikasi menggunakan data yang tidak valid akan terus dilakukan untuk mendukung proses koreksi maupun penarikan publikasi (retraction) sesuai dengan mekanisme akademik dan standar etika publikasi ilmiah yang berlaku," ujar Nur Syarifah.

Dugaan fabrikasi data dan pemalsuan identitas dalam konferensi ISPPD 2026 ini awalnya diungkap oleh seorang peneliti melalui media sosial Threads.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika di akun Threads-nya, Rabu (27/5).

Pelaku diduga memalsukan identitas dengan berganti nama serta menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat data dan tulisan palsu seolah-olah hasil riset tersebut sangat impresif.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila… Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author