Kemendikdasmen Perkuat Kerja Sama Pendidikan AI dengan Thailand dan Singapura

Share

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat kolaborasi pendidikan bersama Thailand dan Singapura untuk program pertukaran guru, siswa, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Kesepakatan tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral saat penyelenggaraan 14th ASEAN Education Ministers Meeting (ASED) di Singapura, Rabu (22/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Penguatan sinergi ini ditujukan untuk memangkas kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil di Indonesia melalui optimasi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Selain itu, Indonesia juga terus mendorong perluasan materi koding dan AI yang saat ini sudah mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa kelas 5 SD.

Kerja sama antara Indonesia dan Thailand akan diperbarui secara resmi melalui penandatanganan nota kesepahaman pada bulan depan demi memperkokoh program pertukaran tenaga pengajar dan murid.

"Kami bertemu Menteri Pendidikan Tailan untuk membahas kerja sama antara Indonesia dengan Tailan yang memang sudah sekian lama perjanjian itu berakhir masa berlakunya, walaupun program kerja sama tetap aktif berjalan. Tadi disepakati untuk bulan depan akan ada penandatanganan kerja sama untuk memperkuat program pertukaran guru, pertukaran murid juga tentang pembelajaran AI, hingga pelatihan mengenai AI," ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.

Pihak Thailand menilai kolaborasi regional ini memiliki peran strategis dalam memperluas ruang tumbuh akademis dan vokasi bagi para peserta didik maupun pendidik.

"Kami percaya bahwa Kesepakatan Bersama (MoU) ini menjadi langkah penting. Kami tidak hanya dapat saling bertukar pengetahuan akademis di berbagai jenjang pendidikan hingga vokasi, tetapi juga terkait pengakuan kualifikasi, penelitian, dan penyediaan beasiswa bersama tetangga kami di ASEAN, Indonesia," kata Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong.

Pemanfaatan teknologi seperti AI dinilai mampu membuka akses internet yang lebih merata untuk menjangkau seluruh pelosok negeri.

"Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota di Indonesia, dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri," ujar Abdul Mu'ti.

Meskipun efisiensi teknologi terus ditingkatkan, penalaran kritis manusia tetap menjadi landasan utama yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.

"Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi, jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak," tegas Abdul Mu'ti.

Seluruh menteri pendidikan di kawasan ASEAN turut menyepakati pentingnya transformasi digital, keterjangkauan pendidikan inklusif, dan pemerataan fasilitas belajar.

"Negara-negara ASEAN telah menyepakati berbagai isu pendidikan, termasuk pendidikan inklusif, pemerataan pendidikan, AI, dan juga beberapa program yang telah disepakati dalam pertemuan berikutnya," ujar Abdul Mu'ti.

Indonesia berencana menetapkan AI sebagai mata pelajaran wajib setelah seluruh sarana prasarana serta kesiapan sumber daya manusia terpenuhi secara merata.

"AI dan koding sudah menjadi mata pelajaran pilihan di Indonesia mulai kelas lima SD. Ke depan, ketika sumber daya manusia dan sarana prasarana sudah siap, AI akan kami jadikan sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah Indonesia," kata Abdul Mu'ti.

Dalam kesempatan terpisah, perwakilan Indonesia dan Singapura mendiskusikan pembaruan MoU pendidikan tahun 2017 sekaligus membahas masa depan Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

"Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota di Indonesia, dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri," katanya Abdul Mu'ti.

Pembaruan kerja sama antara Indonesia dan Singapura dipandang krusial agar kurikulum serta pemanfaatan teknologi tetap relevan menyongsong 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author