Kemendikdasmen Evaluasi Kualitas Pembelajaran Lewat Hasil TKA 2026
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengevaluasi kualitas pembelajaran menggunakan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 sebagai instrumen perbaikan mutu dan validasi rapor. Pengumuman hasil ujian untuk jenjang SD dan SMP tersebut dijadwalkan rilis secara serentak pada 26 Mei 2026.
Hasil ujian ini tidak menjadi indikator penentu kelulusan siswa dan nilainya tidak dicantumkan pada ijazah resmi, melainkan dimuat dalam Sertifikat Hasil TKA (SHTKA). Pihak sekolah dapat mengakses dokumen tersebut melalui portal resmi Kemendikdasmen karena tidak dibuka bebas untuk publik.
Sistem penilaian TKA menggunakan skala 1-100 untuk jenjang SD dan SMP, sedangkan tingkat SMA dan SMK memakai skala 200 hingga 800. Nilai akhir yang dianalisis oleh akun Instagram resmi @litbangdikbud ini dikelompokkan dalam predikat Baik, Memadai, dan Kurang. Untuk meraih predikat Istimewa, siswa SD dan SMP minimal meraih nilai 95,00, sementara pelajar SMA dan SMK wajib menyentuh angka 725,00.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan bahwa hasil ujian jenjang SMA tahun 2025 dan SMP tahun 2026 menjadi rujukan awal kebijakan daerah maupun kementerian, dilansir dari Edukasi pada Senin (20/4/2026).
"Sebetulnya TKA ini kan untuk perbaikan kualitas pembelajaran ya. Bukan hanya sekolah, pemerintah daerah maupun kementerian juga harus punya strategi yang lebih bisa mengakselerasi kualitas dengan hasil existing yang sekarang," kata Toni Toharudin, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen.
Akurasi data yang dikumpulkan dianggap mencerminkan kompetensi riil siswa, sehingga pemerintah kini memetakan langkah lanjutan berdasarkan basis data seluruh jenjang sekolah.
"Jadi kita sangat bersyukur ketika sudah mempunyai hasil TKA semuanya ya di seluruh jenjang apa yang harus kita lakukan," jelas Toni Toharudin.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memaparkan bahwa perolehan nilai matematika tingkat SMP sederajat tahun ini mirip dengan hasil ujian SMA sederajat tahun lalu.
"Sudah diketahui harusnya yang dua hari ini, hasilnya tidak jauh-jauh beda dengan yang tes SMA. Matematikanya akan segitu," kata Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mendikdasmen menyoroti pentingnya perubahan metode ajar matematika agar lebih menyenangkan demi mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi siswa yang masih menjadi tantangan utama.
"Pendekatan belajar menjadi penting. Belajar, terutama mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis," ujar Abdul Mu'ti.
Pengajaran numerasi pada fase awal disarankan fokus pada pengolahan daya logika lewat aktivitas bermain yang disesuaikan dengan usia perkembangan anak.
"Padahal masa-masa awal-awal itu yang penting ditekankan adalah logika-nya. Karena logika-nya sehingga (pembelajaran) hanya main-main saja," ungkap Abdul Mu'ti.
Langkah ini penting dilakukan demi menghindari tekanan akademis berlebihan yang berpotensi memicu hambatan psikologis jangka panjang pada siswa.
"Kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika (jika pelajarannya langsung berat-berat) di masa awal itu akan terus terbawa," jelas Abdul Mu'ti.