Keir Starmer Mengundurkan Diri dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya setelah mendapat tekanan besar dari anggota Partai Buruh. Pengumuman ini disampaikan di tengah dinamika politik yang kompleks pasca-Brexit, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Bagi pemerintah Jerman, Keir Starmer selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan dan dekat dalam isu-isu kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Ukraina," ujar Stefan Kornelius, juru bicara pemerintah Jerman.
Pemerintah Jerman menyoroti upaya Starmer dalam memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa setelah Inggris keluar dari blok tersebut satu dekade lalu.
"Kebijakan migrasi merupakan faktor yang menentukan dalam keputusan Brexit," kata Christophe Fricker, akademisi dari University of Bristol.
Fricker menambahkan perspektif mengenai perubahan pola migrasi yang terjadi setelah proses keluar dari Uni Eropa tersebut.
"Ironisnya, sejak Brexit, angka imigrasi justru kembali meningkat secara signifikan, hanya saja bukan lagi berasal dari Uni Eropa," ujar Christophe Fricker.
Menurut Kamar Dagang dan Industri Jerman, posisi Inggris sebagai mitra dagang Jerman telah merosot dari peringkat kelima pada tahun 2016 menjadi peringkat kesembilan saat ini.
"Yang kita kehilangan adalah mitra pertahanan yang kuat. Kini, justru isu pertahanan menjadi bidang utama di mana kerja sama mulai dibangun kembali. Dan tentu saja, kita juga kehilangan teman-teman.
Dulu terdapat hubungan yang sangat, sangat erat, baik secara pribadi maupun di tingkat masyarakat sipil. Sekarang hubungan itu menjadi lebih sulit dan lebih jarang terjadi," kata Christophe Fricker.
Kerja sama pertahanan tetap dipererat melalui Perjanjian Pertahanan Trinity House tahun 2024 dan Traktat Kensington tahun 2025.
"Starmer sama pragmatisnya dengan Merz, dan keduanya dipersatukan oleh dukungan kuat terhadap Ukraina," ujar Linn Selle, anggota Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman.
Starmer dijadwalkan menghadiri pertemuan Kelompok E5 di Berlin pada Rabu (24/6) sebelum masa jabatannya berakhir. Andy Burnham kini menjadi kandidat kuat untuk menggantikan posisinya dalam memimpin pemerintahan di London.
"Jajak pendapat belakangan ini telah berubah, dan mayoritas masyarakat kini tampaknya mendukung tetap berada di Uni Eropa; sebenarnya, opini publik sudah mengarah ke sana selama beberapa waktu dan tampaknya semakin menguat," kata Christophe Fricker. "Banyak orang di sini yang akhirnya menyadari bahwa keluar dari Uni Eropa bukanlah keputusan yang baik dan justru merugikan mereka."