Keiko Fujimori Dilantik Jadi Presiden Peru dan Umumkan Darurat Nasional
Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai presiden perempuan pertama Peru yang terpilih melalui pemilu pada Selasa (28/7/2026) di Lima. Pemimpin berhaluan konservatif berusia 51 tahun tersebut langsung mengumumkan status darurat nasional guna mengatasi maraknya aksi kriminalitas terorganisasi di negara tersebut.
Langkah tegas ini diambil di tengah krisis keamanan memburuk yang dipicu oleh kelompok kriminal lokal maupun asing. Fujimori memberikan wewenang penuh kepada angkatan bersenjata untuk memimpin sementara operasi keamanan di wilayah-wilayah yang berisiko tinggi.
Dalam pidato perdananya usai dilantik, ia membeberkan kondisi terkini negara yang dipimpinnya tersebut.
"Selama keadaan darurat, angkatan bersenjata akan mengambil alih sementara kepemimpinan dalam operasi keamanan," ujarnya dikutip dari Reuters dan BBC.
Ia menegaskan komitmen pemerintahannya untuk memanfaatkan seluruh kewenangan konstitusional demi memulihkan ketertiban umum. Fujimori menyatakan perang terbuka terhadap berbagai jaringan kejahatan yang meresahkan warga.
"Dalam kondisi darurat, angkatan bersenjata secara sementara memimpin operasi keamanan dan menjaga ketertiban umum melalui koordinasi dekat dengan pihak kepolisian," kata Fujimori dalam pidato perdananya sebagai presiden.
Selain penyiapan militer, pemerintah Peru berencana memperkuat kepolisian nasional melalui dukungan politik, peremajaan peralatan, dan perluasan wewenang. Upaya ini dilakukan untuk menghadapi ancaman keamanan yang meluas.
"Di mana pun kejahatan terorganisasi, perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal merebut kuasa dari negara, kami akan memanfaatkan semua kewenangan yang diberikan kepada pemerintah oleh konstitusi," ucap dia.
Di bidang ekonomi, Fujimori mengumumkan kenaikan upah minimum nasional sebesar 15 persen dari 1.130 soles (Rp6,02 juta) menjadi 1.300 soles (Rp6,92 juta) per bulan. Kebijakan ini diambil untuk melindungi masyarakat dari dampak fenomena cuaca El Niño serta mengatasi stagnasi ekonomi dan tingginya ketimpangan sosial.
Prosesi pelantikan di Istana Parlemen sempat diwarnai aksi walk out oleh sejumlah legislator oposisi dari partai Juntos por el Peru dan Ahora Nacion. Para anggota dewan mengenakan pakaian hitam dan membawa foto korban kejahatan kemanusiaan pada masa pemerintahan ayah Keiko, Alberto Fujimori.
Meskipun terjadi dinamika politik domestik, upacara pelantikan tetap dihadiri oleh deretan pemimpin asing, termasuk Raja Felipe IV dari Spanyol, Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Chile Jose Antonio Kast, dan Presiden Bolivia Rodrigo Paz.