by

Kehalalan Vaksin Mulai Ditelisik

Perwakilan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai otoritas yang berwenang tengah berada di China untuk mengecek proses produksi, keamanan, hingga kehalalan vaksin di Sinovac, Sinopharm, dan Cansino.

BPOM juga mengajak LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan kehalalan dari kandidat vaksin tersebut.

Apabila hasilnya dinilai baik dan aman, maka BPOM akan menerbitkan EUA dan vaksinasi bisa dilaksanakan sesuai rencana pemerintah berdasarkan keputusan ini.

Petisi penolakan untuk disuntik dengan vaksin setengah jadi ini juga muncul dari sejumlah tenaga medis dan peneliti melalui situs Change.org.

Seorang dokter bernama Yohanes Wibowo bersama epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, dan sejumlah orang lainnya menginisiasi penolakan ini sepanjang tidak ada data yang menunjang.

Mereka menuntut pemerintah transparan terhadap data hasil riset vaksin-vaksin tersebut, pasalnya sampai saat ini belum ada publikasi dari riset terkait.

”Vaksin setengah jadi ini berpotensi menimbulkan masalah baru jika timbul efek yang tidak diinginkan.

Apalagi tenaga medis menjadi salah satu prioritas pemberian vaksin. ”Padahal sektor kesehatan sudah terpukul hebat saat pandemi ini,” tulis mereka.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Apresiasi Hasil Diplomasi Datangkan Puluhan Juta Vaksin Covax Secara Gratis

Selain itu, mereka juga menilai penerbitan EUA di negara lain tidak bisa menjadi legitimasi bagi BPOM untuk menerbitkan skema serupa di Indonesia tanpa data yang rinci.

Keraguan serupa juga muncul dalam laporan survei LaporCovid-19 yang bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,

Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, dan Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB).

Dari jumlah responden sebanyak 2.109 dari 34 provinsi di Indonesia, sebagian besar menyatakan keragu-raguan terhadap vaksin yang dikembangkan di Indonesia.

Sebanyak 69 persen responden menyatakan ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima vaksin Sinovac.

Sebanyak 56 persen responden ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima vaksin Merah Putih.

Selain itu, 70 persen ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima obat yang sedang dikembangkan oleh Unair.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menyampaikan rekomendasi kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan pemerintah.

Baca Juga  Ditanya Vaksin, China Cuma Bilang Begini

IDI mengingatkan agar BPOM betul-betul memperhatikan sisi keamanan, efektivitas, dan imunogenitas kandidat vaksin tersebut.

”Kami yakin BPOM akan menjaga kemandirian dan profesionalismenya,” tutur Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban melalui siaran pers.

IDI juga meminta pemerintah tidak tergesa-gesa dan memastikan vaksin yang akan disuntikkan kepada tenaga medis memenuhi syarat mutlak.

Syarat mutlak tersebut mencakup efektivitas, imunogenitas, serta keamanannya yang dibuktikan dengan hasil uji klinis fase ketiga yang telah dipublikasikan.

Menurut Zubairi, belum ada hasil uji klinis tahap ketiga yang telah dipublikasikan sebagai dasar pelaksanaan vaksinasi.

Uji klinis vaksin Sinovac di Brazil misalnya, baru selesai disuntikkan kepada 9 ribu relawan.

Hasil uji klinis di Brazil baru akan disampaikan setelah vaksinasi dilakukan kepada 15 ribu relawan.

”Kita bisa melihat bahwa unsur kehati-hatian juga dilakukan Negara lain dengan tetap menunggu data lebih banyak lagi dari hasil uji klinis fase 3,” ujar Zubairi.

”Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa program vaksinasi adalah sesuatu program penting namun tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa,” lanjut dia.

Baca Juga  Makin Deras Menyerang Jakarta dan Jabar

Di Indonesia sendiri, uji klinis tahap ketiga dari vaksin Sinovac masih dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan hasilnya baru bisa disimpulkan secara komprehensif pada Maret 2020.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan penyuntikan vaksin berdasarkan EUA sebelum uji klinis rampung berarti memaparkan manusia pada risiko yang signifikan.

Dia meminta pemerintah memastikan bahwa vaksin dapat membantu mencegah penyakit dengan data yang jelas, setidaknya untuk keamanan jangka pendek.

Pasalnya, tingkat uji klinis vaksin untuk penyakit infeksi hanya memiliki tingkat keberhasilan 33,4 persen.

”Artinya sebagian besar vaksin yang masuk ke tahap uji klinis akan gagal. Tidak ada pengecualian untuk vaksin Covid-19,” ujar Dicky.

”Sebelum menyelesaikan uji klinis vaksin tahap ketiga, kita tidak akan memiliki keyakinan penuh atas keamanan dan efektivitas vaksin,” lanjut dia. (man/tap)

Baca Juga