Kebakaran Lahan Gunung Bromo Meluas Hingga 550 Hektare

Share

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) meluas hingga mencapai 550 hektare sejak titik api pertama kali terdeteksi pada Senin, 3 Agustus 2026. Bencana ini memaksa otoritas menghentikan total seluruh aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo.

Titik awal kobaran api berawal dari Blok Bantengan-Jantur di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Kobaran api menjangkau wilayah Kabupaten Malang serta kawasan puncak B29 Lumajang akibat hembusan angin kencang dan kondisi vegetasi yang mengering, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh kelalaian pelintas jalur tradisional Argosari-Ranu Pani yang meninggalkan perapian atau api unggun dalam kondisi belum padam sempurna. Api kemudian melompati sekat bakar alami hingga membesar secara cepat.

Untuk mengendalikan situasi, Balai Besar TNBTS menerbitkan surat edaran penutupan total akses masuk wisata Bromo tanpa batas waktu sejak 8 Agustus 2026. Penutupan dilakukan guna mendukung kelancaran operasi pemadaman gabungan.

Penanganan karhutla saat ini mengandalkan pemadaman udara dengan helikopter water bombing milik BNPB, drone penyemprot air, serta penerapan teknologi modifikasi cuaca. Jalur masuk dari Jemplang, Coban Trisula di Malang, dan Senduro di Lumajang masih ditutup rapat.

Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama memberikan penjelasan terkait lokasi awal kemunculan titik api tersebut.

"titik awal api berasal dari Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang bukan kawasan wisata," kata Endrip Wahyutama, Pranata Humas Balai Besar TNBTS.

Endrip Wahyutama menambahkan keterangan mengenai perkembangan pergerakan kebakaran yang meluas ke area sekitarnya.

"titik api semakin luas hingga menjangkau wilayah Kabupaten Malang," ujar Endrip Wahyutama, Pranata Humas Balai Besar TNBTS.

Kawasan TNBTS tercatat memiliki rekam jejak karhutla berulang yang dipicu faktor cuaca ekstrem maupun kelalaian manusia. Pada tahun 2014, kebakaran melahap lebih dari 50 hektare savana dan dipadamkan secara manual dalam waktu lima hari.

Insiden berlanjut pada 2018 di Blok Plentongan yang menghanguskan 65 hektare lahan. Musim kemarau panjang El Nino pada 2019 juga memicu kebakaran sporadis hingga melahap hampir 100 hektare vegetasi di wilayah Coban Trisula.

Kebakaran besar lainnya terjadi pada September 2023 di Bukit Teletubbies akibat penggunaan suar asap saat sesi foto pernikahan, yang menghanguskan total 504 hektare lahan sebelum akhirnya berhasil dipadamkan total lewat operasi water bombing.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author